Atas nama Cinta dan Perjalanan: Nowhere Man

•September 23, 2008 • 1 Comment

Salam.

Nama Saya Ramdhan, sebagian teman dan kolega memanggil saya Ramses. Surobuldog adalah salah satu nama yang pernah saya pakai dalam salah satu fragmen perjalanan saya. untuk blog ini saya pakai nama surobuldog karena nama lain telah terpakai, terlalu populer. ( saya heran kenapa tak ada orang pakai nama surobuldog, padahal tokoh yang saya pernah baca itu sangat menarik). ..

pekerjaan saya adalah tukang bikin video dan tukang ngamen. sesekali saya bikin topeng kertas. pernah juga saya jadi pemain tonil dan tukang bikin interkom.

saya cerita tentang apa yang saya kerjakan ini karena barangkali dengan begitu saya dapat belajar dari orang lain yang mau berbagi tentang hal-hal yang sama dan berkaitan. kalau pun tidak ya tak mengapa.

tabik…

ada yang tak mampu kulupa...

ada yang tak mampu kulupa...

pantai

•October 17, 2008 • Leave a Comment

di Pulau Um

CESARRRR

•February 19, 2009 • Leave a Comment

Di awal-awal kehamilan istri saya, kami bersepakat untuk mengusahakan persalinan secara normal, tidak melalui operasi cesar. Alasannya, selain kami tidak punya uang banyak untuk operasi kami juga dengar bahwa ibu yang dioperasi cesar butuh waktu lama untuk pulih dibandingkan dengan ibu yan melahirkan secara normal. Kami percaya kehamilan dan persalinan adalah hal yang alami, bukan penyakit.
Namun kami butuh banyak nasehat dari beberapa orang; dokter, orang tua, tetangga, teman karena kondisi kesehatan istri saya yang mengidap hypertiroid menurut dokter yang pernah memeriksanya dulu, beresiko jika melahirkan secara normal.
Beruntung istri saya yang memeriksakan hormon tyroidnya secara berkala tiap bulan ternyata memilki tingkat hormon tiroid normal selama kehamilan. Kami pun memeriksakan kandungan di bulan kedua pada seorang dokter yang cukup bagus (antriannya panjang boo). Kemudian bulan berikutnya kami memeriksa kandungan pada bidan di dekat rumah yang bilang bahwa dia suka meyakinkan orang untuk melahirkan secara normal.
Sampai kemudian menginjak usia kandungan 9 bulan. Setelah di-usg dokter yang direkomendasikan sang bidan bilang, “ ada satu lilitan ari-ari di bayi, selebihnya sang bayi sehat. Ibu banyak jalan kaki dan ngepel saja ya”. Namun kemudian sang bidan di rumahnya bilang bahwa isti saya harus dioperasi cesar karea terlalu beresiko. Lilitan itu berbahaya dan di usia dua minggu sebelum hpl (hari perkiraan lahir) bayi belum masuk panggul. Walaupun kami masih memiliki waktu namun bidan itu tidak memberi opsi lain selain operasi cesar.
Saya marah. Istri saya marah. Bukan karena kondisi kandungan dan resikonya melainkan karena bidan itu, yang memilki MoU dengan dokter tadi, tidak memberi opsi lain. Padahal dulu dia bilang dia tidak mudah merekomendasikan operasi sesar. Padahal dia bukan dokter yang seringkali ambil jalan cepat dan menguntungkan secara fiansial, operasi cesar karena harus melayani banyak pasien. Lalu kami ingat bahwa dari seluruh perawatan persalinan yang ada di rumah bersalinnya itu semua mengalami operasi cesar.
Esoknya saya mencari bidan lain. Sebelum istri saya diperiksa saya bilang ke bidan baru itu mengenai hal yang kami alami. Juga saya bilang bahwa kami butuh diyakinkan bahwa istri saya bisa melahirkan secara normal. Tokh saya juga dulu lahir dengan lilitan ari-ari di leher saya.
Sore harinya istri saya diperiksa bidan baru itu dan beliau bilang, “kita doakan saja mudah-mudahan bisa lahir normal secara lancar dan ibu harus banyak berjalan”.
Lumayan, kami bisa agak lega sedikit walaupun saya tahu bidan itu sudah saya wanti-wanti sebelumnya bahwa kami tidak mau mendengar rekomendasi untuk operasi cesar.
Hari berikutnya kami memeriksa kandungan pada dokter yang pertama memeriksa istri saya. Hasilnya: bayinya ok, tidak ada lilitan, dan bisa melahirkan normal. Alhamdulillah.
Pulang dari dokter saya dan istri saya berbincang tentang yang kami alami dan membayangkan mungkin saja bidan mendapat keuntungan dari pemeriksaan rutin ibu hamil lalu saatnya melahirkan sang ibu dilempar ke meja operasi (yang mahal) oleh dokter, dia bidan sendiri barangkali sudah jarang menangani persalinan yang berdarah-darah itu sambil tetap mendapat komisi dari dokter atau rumah sakit mitra yang direkomendasikannya. Hahahah…
Sampai kemudian datang hari kelahiran, di klinik bersalin istri saya juga mendapat perhatian berkaitan dengan hipertiroid yang diidapnya. Sampai kami menunjukan hasil tes hormon yang normal.
Saya mendampingi istri saya melahirkan. Tujuh asisten menemani bidan membantu istri saya melahirkan. Luar biasa pengalaman itu.
Saya membisikan azan dan qomat di kedua telinga bayi kami yang baru lahir. Kerongkongan tercekat haru.

While my guitar gently weeps…

•January 24, 2009 • 1 Comment
jaket jeans dan gitar...

jaket jeans dan gitar...

Topeng obama

•January 24, 2009 • Leave a Comment

Beberapa waktu lalu saya mendapat pesanan topeng obama. Maksudnya topeng yang mirip Barack Obama, presiden amerika terlantik itu. Penasaran, saya bertanya pada pemesan, “Apa mau demo amerika atau merayakan pelantikan obama?”

“Haha..” Dia cuma tersenyum.

Mengabaikan rasa penasaran yang tak terjawab saya mengusulkan,” kalo mau saya bisa bikinkan topeng obama dari bahan yang mudah dibakar, siapa tahu mau ada acara pembakaran topeng juga”.

“Ah yang biasa saja bahannya. Tapi dibikin mirip ya”

Satu topeng obama yang kami buat sudah terjual dan sekarang saya harus membuat cetakan obama lagi. Menyenangkan juga mendapat pesanan topeng lebih dari satu. Rupanya banyak orang yang merasa dekat dengan Obama sehingga merespon persitiwa diangkatnya jadi presiden dengan antusias. Seperti saudaranya saja yang jadi presiden.

“Ntar habis nonton beliin saya lem sekilo lagi ya” Saya menyuruh adik saya yang saat itu sedang menonton berita aksi pembantaian Israel atas rakyat Palestina.

“Kita dapat pesanan topeng obama nih”.

kertas koran bekas!

Old Men and Sea

•January 15, 2009 • Leave a Comment

old-men-and-the-sea1mereka tak bercakap hanya memandang ombak yang tak henti ber-rock n roll

sesekali ikan terbang muncul ke permukaan seperti mengajak keduanya berenang

“sampai kapan laut nongkrong disini ya?”

matahari sudah menguning

karam pelan di garis laut

“sampai kapan atuh…”

TOPENG KERTAS

•January 5, 2009 • 16 Comments

Setiap hari minggu saya berjualan topeng kertas.

sejak kelas empat sd saya menyukai menggambar wajah dan membuat topeng kertas yang dulu diajarkan Pak Iding, guru saya.

Dengan kertas-kertas bekas, lem, dan sedikit cat topeng kertas dapat dibuat. sampai sekarang saya sering merasa heran kenapa sedikit orang yang membuatnya, padahal kalau saya menjualnya, saya memperoleh keuntungan dengan modal yang minim.

dscn8840

saya menjual topeng kertas dengan 4 jenis harga. Harga Rp 5000 untuk topeng yang saya buat berdasarkan model keinginan saya, harga Rp 10.000 untuk topeng yang bentuknya lebih rumit, harga Rp. 20.000 ntuk topeng dengan bentuk sesuai pesanan, dan harga Rp. 0 alias gratis jika anda berkunjung ke tempat saya atau ke tempat saya jualan, saya ajarkan bagaimana membuatnya, lalu membuat sendiri dengan bahan milik saya, jika sudah selesai silakan dibawa pulang.

namun rupanya orang-orang lebih suka mengeluarkan uang daripada sedikit bersusah membuat sendiri, sesuai keinginan mereka. orang lebih suka membeli. (ah rupanya tak ada yang namanya krisis ekonomi itu).

Tabik.

topeng-ramses-1

 

dscn8790

topeng kertas

•December 22, 2008 • Leave a Comment

altough I laugh and I act like a clown…

(Beatles, Im Looser)

two-faces

Seni Rupa yang tak punya Ruh

•October 13, 2008 • 1 Comment

Seni Rupa yang tak punya Ruh

 

Formalisme berpandangan bahwa form-lah—alih-alih content—yang menentukan kualitas kekaryaan dari suatu karya seni. Form—alih-alih content—merupakan ruh dari suatu karya seni. Dan dalam kerangka berpikir modern, seniman harus selalu menghasilkan kebaruan dalam form [perkakas-perkakas ekspresif perupaan] medium keseniannya. Dia haruslah selalu beranggapan bahwa kondisi kesenian di masanya sedang mengalami krisis dan menghadapi kebuntuan, dan karenanya dia harus memandang bahwa tugasnyalah untuk memberikan jalan keluar bagi krisis “formal” yang ada. — — Dan tugas mencari jalan keluar bagi krisis “formal” ini merupakan hakikat seorang seniman modern; tugas inilah yang menerakan seorang individu predikat seniman.

Perlu diinsafi bahwa krisis tersebut harus diartikan sebagai kebuntuan dalam perkakas-perkakas ungkap [expressive devices], berupa kemandegan-kemandegan representasi ruang dalam dua dimensionalitas kanvas, ketaksempurnaan representasi objek, relasi Seniman dengan Alam—sekedar menyebutkan beberapa contoh. Meski terasa berlebihan, ini perlu ditekankan mengingat kesenian Indonesia memahami krisis tersebut sebagai suatu krisis sosial dan politik.

Apa yang terjadi ketika krisis “formal” dunia kesenian dipahami sebagai krisis sosial?

Saya pernah membaca buku kumpulan puisi para penyair Belanda dan Indonesia. Ada sesuatu yang aneh didalamnya, para penyair Belanda dalam karyanya tidak merasa berkecil hati untuk menceritakan anjing kesayangannya, pagar rumahnya. Meski menceritakan hal-hal yang kecil, apolitis bahkan afilosofis, semua tulisan mereka tetaplah karya sastra. Ada “sesuatu” yang membuat tulisan-tulisan mereka sebagai sebuah karya sastra. Namun ketika saya membaca karya-karya penyair Indonesia, tulisan-tulisannya penuh dengan hal-hal yang “besar” dan “mewah”. Kekerasan, kebrutalan militer, kesepian, keterasingan hidup dan cara pikir urban, konsumerisme, ketertidasan buruh, kritik pada rejim yang berkuasa, nasionalisme yang memudar, keserakahan manusia, kritik atas rasio, pers yang mandeg—inipun sekedar menyebutkan beberapa contoh.

Pada kesempatan yang lain, saya menonton festival film pendek Prancis-Indonesia. Keanehan serupa terjadi pula. Film-film karya film-maker Indonesia—yang kebanyakan adalah karya para mahasiswa IKJ—memuat tema-tema yang secara politis lantang, filosofis, yang pada pokoknya membikin dahi berkerut. Sementara hal-hal formal—hal-hal yang merupakan ruh dari kesenian, semisal angle kamera, teknik-teknik editing masihlah konvensional dan  tidak menawarkan sesuatu yang baru. Keanehan ini bisa disaksikan pula dalam medium-medium kesenian yang lain. Yang paling jelas terlihat adalah dalam dunia seni rupa.

Tampaknya seniman Indonesia sudah lebih mengutamakan content—alih-alih form—dalam kegiatan berkeseniannya. Jika kita masih setia pada pandangan Formalisme, maka praktek berkesenian ini adalah praktek berkesenian yang tanpa form. Dengan kata lain, praktek berkesenian yang tak memiliki ruh sama sekali!

Lalu apa yang terjadi dalam kehidupan kesenian jika para senimannya mulai menfokuskan diri pada dan melebihpentingkan content sebagai unsur utama sebuah karya seni? Menggunungnya “karya-karya” seni yang menyuarakan kritik sosial, karya yang mengumbar analisis sosial—yang diam-diam sebenarnya hendak mengesankan kerumitan cara berpikir pembuatnya. Yang mengerikan adalah ini: content menjadi alat ukur bagi kekaryaan suatu lukisan/karya seni.

Karya seni yang paling lantang, yang paling pedas, yang tak kenal takut dalam menyuarakan—misalnya—kritik atas pemerintah, adalah karya adiluhung; senimannya dielu-elukan dan bahkan karya yang dilarang pemerintah dengan serta merta membuat senimannya menjadi besar; sementara seniman yang bergulat dengan pencarian form baru—penjelajahan kemungkinan-kemungkinan akan penemuan elemen-elemen rupa—didefinisikan dengan sebutan seniman yang tak-kontemporer, “seniman borjuis”.

Singkatnya: kehidupan kesenian seperti ini benar-benar merupakan kehidupan kesenian yang tidak memiliki ruh. Dan yang lebih menyedihkan lagi, justru para senimannya sendiri tak menyadari bahwa keseniannya tak memiliki ruh. Jika begini adanya, mereka tak bisa diandalkan dalam menemukan form baru semenjak mereka beranggapan pencarian dan eksperimentasi form bukan merupakan wilayah garapan dirinya sebagai seorang seniman.

Lalu bagaimana proses kreatif seorang seniman dalam kehidupan kesenian yang menitikberatkan content sebagai elemen utama suatu karya? Berbeda dari kaum Impresionis yang membenamkan diri secara mendetail pada teks-teks ilmu optik, pada kajian-kajian empirisisme demi mengetahui bagaimana dan sejauh mana mata menangkap realitas, seniman yang mengutamakan content akan menghafal prasangka-prasangka yang sensasional, menghabiskan waktu dengan menghadiri diskusi dan seminar, menonton talkshow, banyak-banyak membaca koran. Namun perlu anda ketahui, penulisan berita yang berlaku di koran tidaklah akan pernah mendedah sesuatu secara mendalam. Karenanya, berapapun banyaknya koran dibaca, semua itu tak akan mengantarkan pembacanya (seniman kita) pada kedalaman. Karenanya, seniman seperti itu seperti tahi, mengambang dan selalu terombang-ambing arus. Teratai, ia hanya tahu daunnya saja, batang dan akar tak ia indahkan (PS: radikal memiliki kata dasar radix=akar); diajak menyelam, seniman seperti itu kewalahan : tak tahu ekonomi pernapasan—terlalu sering muncul ke permukaan— —tapi dengan gagah dan bertepuk dada berkata, “tadi aku menyelam! Maka aku adalah seorang penyelam!” Dan itulah kenapa statemen-statemen yang termuat dalam karyanya selalu dangkal dan tak pernah mendalam.

Lalu kenapa para seniman menganut pandangan seperti itu? Barangkali mereka hendak mengekspresikan kepeduliannya atas mereka yang teraniaya dan tertindas. Barangkali mereka hendak melahirkan pencerahan, pendidikan-kritis, penyelamatan atas rakyat melalui karya-karya yang mereka hasilkan. Namun mari saya katakan sekarang, pencerahan, penyelamatan dan hal-hal “besar/agung” semacam itu tidak akan terejawantah dalam kehidupan kongkrit melulu melalui karya seni. Bahkan sejuta lukisan yang menggambarkan inferioritas kaum wanita—misalnya—tidak akan bisa mengubah kondisi sosial-politik gender yang ada. Ratusan LSM sendiri, yang memiliki begitu banyak kegiatan yang programatik, sistematis, dan terencana, belum pernah membuahkan pencerahan yang diharapkan.

Menurut hemat saya, lebih baik semua “ide” itu jangan diekspresikan melalui karya seni tapi mendingan dituliskan saja dalam bentuk artikel dan dikirim ke koran. Ini lebih baik dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa sebuah artikel lebih komunikatif (artinya pesan yang hendak disampaikan gampang ditangkap dan menghindarkan bias-bias penafsiran yang tak perlu dibanding melalui karya seni yang seringkali njlimet, multi-tafsir, kriptis), jauh lebih masif dalam penyebarannya (artinya sanggup menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu yang relatif bersamaan—jauh lebih menguntungkan dibanding pameran yang hanya dapat menampung segelintir orang), dan membutuhkan dana yang minim dibanding kanvas atau tumpukan radio dan tv bekas!

Lalu bagaimana rupa seniman dalam kehidupan kesenian yang memfokuskan diri pada dan melebihpentingkan content seperti ini? Ia tak beda dengan seorang konsumen dalam menjalani hidupnya. Alih-alih bereksplorasi sendiri dalam menemukan perkakas-perkakas ungkap yang baru, dia menghabiskan waktunya dengan membuka telinga lebar-lebar demi memantau perkembangan baru dalam seni rupa dunia—dan ini benar-benar tak berbeda dengan diri kita yang selalu menunggu-nunggu dipasarkannya produk terbaru dari Nike atau Levi’s.

Mencari form baru, mencari jalan keluar bagi kemandegan estetika, yang merupakan tugas hakiki seorang seniman modern—tugas inilah sebenarnya yang memberikan seseorang predikatnya sebagai seniman; suatu tugas yang memberikan kemungkinan bagi dirinya untuk melahirkan suatu aliran seni lukis berskala dunia—dia mandatkan begitu saja kepada seniman bangsa lain.

Layaknya seorang konsumen, ketika mereka mendengar lahirnya suatu gaya atau aliran baru di luar negeri sana, mereka dengan tak ragu, tak tahu malu, tak berkecil hati, tanpa perlu mengetahui origin-nya, tanpa berpikir panjang, mengadopsinya mentah-mentah. Dan yang lebih memilukan lagi, dalam melakukannya mereka merasa bangga dan bertepuk dada, “Aku, si seniman yang tak ketinggalan jaman!”— —Duh… mereka tak pernah berkaca pada jalan hidup Gogh atau Cézanne.

Lalu pertanyaannya: masih layakkah seniman seperti itu—seniman yang berlaku layaknya seorang konsumen, seniman yang dapat dipastikan tidak akan menyumbangkan jalan keluar bagi krisis “formal” kesenian, seniman yang tak pernah bersentuhan dengan hal-ihwal form, seniman yang tidak  memiliki ruh, seniman yang punya spirit meniru segala yang “berbau luar negeri” agar kelihatan kontemporer—disebut sebagai seniman? Akankah mereka memberikan sumbangan pada kehidupan kesenian dunia? Akankah seniman seperti itu bakalan memiliki nama sebesar Picasso atau Gogh atau Warhol atau Nash atau Klee? (Karena, bagaimanapun, sejarah kesenian modern pada hakikatnya merupakan kegiatan pencatatan penemuan-penemuan form yang telah dilakukan, dan bukan pencatatan atas content  suatu karya.) — — Dan perlu kita tahu bahwa Picasso dicatat sejarah karena dia menghidupkan kubisme dan bukan karena dia menggambarkan apel, biskuit, gitar, wanita, meja bahkan Guernica. Dengan kata lain, Picasso memiliki nama besar bukan karena content dari lukisan-lukisannya.

Dan perlu kita camkan juga bahwa tugas par excellence seorang seniman modern adalah penemuan form baru dalam dunia kesenian. Ini berarti bahwa memfokuskan kegiatan berkarya hanya pada content, tidak akan pernah dicatat sejarah kesenian modern dunia. Seribu karya yang memuat tema-tema politik atau filosofis bagi pelukisnya hanya menghasilkan predikat “orang bernurani”, “orang berwelas asih”, “pintar”,  “memihak rakyat” tapi tidak pernah menjadikan dia seorang seniman. Dan seribu karya yang memuat tema-tema politik atau filosofis seperti itu tidak akan menjadikan dirinya sebagai seniman.

Pergeseran cara pandang dalam kesenian seperti ini patut disayangkan karena hasil dari pergeseran ini adalah kemandulan kesenian itu sendiri. Dengan memandang “kesenian … tidak lagi memperbincangkan indahnya wana, garis, dan bentuk, melainkan masalah-masalah sosial-politik lokal”[1] itu berarti menggadaikan kemerdekaan dunia kesenian yang terangkum dalam l’art pour l’art dan sekaligus itu pula membawa kesenian pada kondisi “jahiliyah”nya. Dengan pergeseran cara pandang ini, kesenian dikerangkeng, dibatasi ruang-geraknya, dibatasi wilayah eksplorasinya dan dipaksa hidup berparasit kembali. Jika pada masa-masa pra-modern kesenian hidup berparasit pada agama dan istana, sekarang kesenian berparasit pada politik—atau jika anda mau, berparasit pada “kepedulian sosial”.

In summa: kita telah terlalu lama dan terlalu serius untuk menekankan content sebagai unsur-utama dari suatu (penciptaan) karya—dan  celakanya kita (tentu saja sebagai seniman modern) tidak sadar bahwa sebenarnya kita telah tersesat dengan berbuat itu. Dan celakanya kita tidak menyadari bahwa sebenarnya dengan berbuat seperti itu kita telah membunuh kesenian, telah membenamkan kesenian pada jurang kegelapan.

 

* * * * *

 

Lalu bagaimana seharusnya seniman modern?

Dan seharusnya seniman modern memposisikan dan memandang diri untuk selalu berada di depan dan melampaui pikiran masyarakat[2] namun bukan dalam menganalisis kondisi sosial, bukan demi mengkritisi suatu rejim, bukan demi mengendus segala kebobrokan dan keabsurdan eksistensi manusia—seperti yang biasa dianut para seniman yang mengedepankan content sebagai unsur utama karyanya—tapi terdepan dan melampaui weltanschauung masyarakat dalam menyadari (biasanya secara intuitif) bahwa estetika kontemporer, form yang ada, mode persepsi yang berlaku di jamannya bukanlah sesuatu yang bersifat objektif (‘diluar sana’), tidaklah bersifat alamiah, bahkan tidak ilahiah, tapi semata-mata merupakan hasil konstruksi manusia. Dengan kata lain: semua itu bisa dibongkar! Dalam jargon Kiri, seniman yang seperti ini adalah orang yang telah terbebas dari kesadaran palsu. Aih, gagahnya…

 

 

 

 

(Rachmat Juhandi)

Alamat : Jl Pagarsih Gg Pasantren 31 Bandung

Tlp 08882176314

Email:  Thebolors_bujurnolols@yahoo.com atau

            Insane_kamil@yahoo.com

 


[1] Dikutip dari tulisan Agung Hujatnika bertanggal 2002.

[2] Kalimat ini adalah modifikasi dari manifesto Persagi.

tugas seniman modern

•October 12, 2008 • Leave a Comment

Spirit Seniman Modern

 

Formalisme Sebagai Titik Pandang Mendasar

Apakah seni lukis? Apakah lukisan? Dan apakah Seniman? Tiga pertanyaan yang terdengar usang — — usang, semata-mata karena telah terlalu sering dilontarkan, terlalu buru-buru diberi jawaban, yang nota bene tak memuaskan.

Ada baiknya di sini, demi memulai jawaban atas pertanyaan tersebut, saya membuat distingsi antara form dan content dengan berpaling pada pandangan yang dikedepankan oleh Formalisme. Namun perlulah dipahami bahwa pemilahan ini dibuat demi kepentingan analisis semata.

Formalisme Rusia (dalam wilayah susastra) berpandangan bahwa ada hal yang membuat suatu tulisan disebut atau dikategorikan sebagai sebuah puisi. Menurut mereka, hal yang menentukan kekaryaan sebuah puisi atau karya seni bukanlah subjek yang disampaikan atau tema yang diangkat oleh puisi atau karya seni tersebut. Sebuah tulisan menjadi puisi bukan karena tulisan itu mengangkat tema—misalnya—keabsurdan eksistensi manusia, melainkan dia menjadi puisi melulu karena puitis.

Kepuitisan inilah, yang terdiri dari sekumpulan perkakas-perkakas ungkap [expresive devices], yang membuat suatu tulisan disebut sebagai puisi. Dalam puisi, kepuitisan ini terbangun oleh rima, ritma, metrik, jumlah larik, dan lain-lain. Dari hal ini, lahirlah pemilahan antara form dan content. Form adalah untuk menyebut segenap perkakas-perkakas-ungkap yang ada dalam suatu karya, sementara Content untuk menyebut subjek atau tema yang diangkat oleh seniman dalam karyanya. Atau untuk lebih sederhananya lagi, form adalah sebuah mangkuk atau wadah bagi soto panas [content].

Dari “oposisi biner” ini, Formalisme Rusia lebih mengistimewakan form daripada content dalam memperlakukan suatu karya seni. Karena bagi mereka, form inilah yang menentukan kekaryaan dari suatu produk kesenian. Form-lah yang membedakan sebuah puisi yang menceritakan tentang kekejian militer dengan berita koran yang mengabarkan tentang peristiwa penembakan atas para mahasiswa Trisakti. Dengan kata lain, form-lah yang merupakan ruh dari suatu karya seni dan kesenian pada umumnya. 

Penalaran Formalisme Rusia dalam dunia susastra ini bisa kita adopsi untuk diterapkan dalam wilayah seni rupa. “Apakah yang membuat suatu lukisan dipandang sebagai suatu karya seni?” Dalam menjawab pertanyaan ini kita memodifikasi penalaran di atas menjadi: “form adalah segala hal yang membuat sebuah gambar (coretan, polesan, dll) dipandang sebagai sebuah karya seni lukis.” Banyak gambar yang bisa kita temui di sekeliling kita, tapi hanya beberapa sajalah yang merupakan karya seni. Form inilah yang memungkinkan kita untuk mengkategorikan segelintir gambar sebagai sebuah lukisan.

Karena content atau tema yang diangkat suatu karya dianggap bukan sebagai elemen yang menentukan kekaryaan sebuah karya seni, maka sebuah karya seni tetaplah karya seni meski dia tidak memuat content apapun, asalkan dia memiliki form. Karena form yang menentukan suatu produk kesenian disebut karya atau bukan, maka form adalah ruh dari karya seni dan kesenian. Seremeh apapun temanya, suatu karya tetaplah karya sejauh ia mengandung terobosan baru dalam hal form ini. Atau dinyatakan dengan terbalik, kita bisa mengatakan bahwa: selantang apapun tema yang digambarkan dalam lukisan, sekritis apapun analisis sosial yang terkandung dalam lukisan, sekeras apapun protes yang diungkapkan dalam lukisan, sehumanis apapun kepedulian sosial atas kaum tertindas yang terungkap dalam lukisan, semua itu tidaklah akan membuat sebuah lukisan berhak disebut sebagai sebuah karya seni jika didalamya tak memuat terobosan baru dalam form.

Pandangan Formalisme ini pada dasarnya merupakan sebuah upaya perayaan dan mengisi “kekosongan-arah” setelah dicapainya kemerdekaan dunia kesenian yang terkristal dalam ungkapan l’art pour l’art. Teriakan “l’art pour l’art” bukanlah kegempitaan kaum borjuis, tapi utamanya ia merupakan pekik-girang ketika sebuah tanah-baru-tak-bertuan ditemukan. Dalam tanah tak bertuan itulah, kesenian insaf bahwa wilayah eksplorasi dunia seni ternyata terbentang amat luas. Dan keluasan wilayah garapan ini, kebangblasan tanah baru ini, di masa-masa sebelumnya tidak terlihat dari titik berdiri kesenian pra-modern, jaman-jaman ketika dunia kesenian masih berparasit pada agama dan istana.

 

Karena itu Formalisme bisa disebut sebagai juru bicara bagi kemerdekaan kesenian.

 

Karena kita sudah bisa memahami dan sampai pada kesimpulan bahwa form adalah elemen yang menentukan kualitas kekaryaan produk dari buah-kerja seorang seniman, maka kita pun harus menyudahi pembahasan tentang Formalisme. Dan memang hanya sejauh itu arti penting Formalisme bagi dunia kesenian. Dia telah menunjukkan bahwa form adalah ruh dari karya seni. dan dengan pernyataan Formalisme tersebut, dia telah menyediakan titik-pijak yang kukuh bagi kehidupan kesenian dalam dunia modern.

 

* * * * *

Konsep Waktu Dalam Kesadaran Modern

 Modernisme adalah faham yang percaya bahwa kehidupan modern adalah format sosial yang bisa membikin hidup manusia lebih beradab, lebih berbudaya, lebih sehat dalam kodratnya, lebih merdeka, lebih progress. Ia merupakan jalan pembebasan manusia dari segala batasan-batasan yang ada dalam format kehidupan sebelumnya, yang melandaskan diri pada otoritas iman dan aristokrasi.

Lalu dengan modernisme, keutamaan beralih dari iman ke rasio. Dengan begitu, modernitas melandaskan hidupnya dengan lebih mengutamakan rasio. Karena rasio merupakan fakultas yang dimiliki oleh setiap manusia, maka dengan beralihnya otoritas dari iman dan bangsawan ke rasio ini, berarti pula diraihnya kemerdekaan individu. Sekarang, setiap manusia adalah individu yang otonom dan dipandang sanggup menentukan dirinya sendiri.

Modernisme memandang dirinya sebagai universal. Artinya modernisme bukanlah suatu faham yang khas bagi masyarakat Eropa, tapi ia merupakan faham yang lebih merdeka bagi segenap umat manusia di semua penjuru dunia. Karena itulah muncul apa yang diistilahkan dengan modernisasi, yaitu proses penyebaran nilai-nilai kemodernan pada masyarakat-masyarakat non-modern. Kita sebagai masyarakat Indonesia faham benar dengan istilah itu karena kita mengalaminya. Karenanya, sedikit banyak kita hidup dan meyakini nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang berlaku dalam faham modernisme.

Dua paragraf ini bukanlah uraian tuntas akan konsep modern, modernisme dan modernitas. Dan tulisan ini tidaklah hendak mendedah modernisme dengan tuntas. namun untuk sekarang kita harus memahami tentang konsep waktu dalam kesadaran modern.

Waktu dalam kesadaran modern bersifat linear. Waktu dipahami sebagai sesuatu berlangsung dari titik yang diawali dengan suatu “kelahiran” menuju titik lain yang menjadi akhirnya, yaitu “kematian”. Hegel menggambarkannya dengan ilustrasi biji-biji tasbih di tangan kita. Waktu yang telah berlangsung, tak bisa dialami kembali.

Lalu, waktu dipilah kedalam tiga pilahan umum, yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu adalah masa yang telah kita tinggalkan dan yang telah membentuk masa kini, masa kini adalah masa yang momentous bagi masa depan yang utopia tempat segala ideal-ideal masa kini diproyeksikan.

Ketika waktu dipahami secara linear seperti ini, maka pengalaman, segala peristiwa yang kita alami pada masa kini, pun diinsafi sebagai suatu pengalaman yang khas, partikular, baru, tak tergantikan, dan belum pernah kita alami pada waktu-waktu sebelumnya. Dengan begitu, setiap detik dari waktu yang kita jalani, setiap pengalaman yang dihasilkan dalam proses menjalani waktu linear tersebut, selalulah dipandang dan dipahami sebagai produksi pengetahuan baru, sebagai pengayaan diri, sebagai pengenalan lebih dalam atas diri, sebagai penyempurnaan diri. Hegel menyebutnya sebagai perjalanan kesadaran dalam penyadarannya akan Roh Absolut.

Karena waktu dipahami sebagai linear dan perjalanan merempuhi waktu linear tersebut dihayati sebagai suatu proses penyempurnaan diri atau perjalanan kesadaran [roh] menuju Roh Absolut [jargon Hegel], maka spirit orang modern adalah eksploratif. Setiap pengalaman dipahami sebagai suatu eksplorasi. Dan kebaruan menjadi katalisator dalam segenap denyut dinamika kehidupan modern. Kebaruan menjadi agen-pengarah dalam mengarungi waktu. Menemukan yang baru merupakan keutamaan/keunggulan, sementara pengulangan merupakan penyia-nyiaan waktu, yang pada hakikatnya merupakan sesuatu yang tak bisa kita alami kembali. Karena itulah masa kini selalu dipahami sebagai masa yang momentous, masa tempat kita menemukan hal baru, yang di masa depan nanti temuan baru kita itu dipandang sebagai sebuah sumbangan pada kemanusiaan. Kita orang modern menjadi orang yang tak sabaran.

Dalam kebaruan modernis ini tersirat pengertian progress atau kemajuan. Progress adalah anggapan bahwa masa kini adalah lebih baik, lebih luhur, lebih unggul, lebih mulia dari segala hal yang pernah berlangsung di masa lalu.

Dengan konsep waktu dan pengertian kebaruan/progress inilah maka kita sebagai orang modern selalu berupaya menemukan hal-hal baru sambil melupakan (dan memandangnya sebagai usang)  hal-hal yang sudah ada. Inilah yang menjadi alasan kenapa orang modern mengharamkan segala peniruan pada masa lalu. Bagi mereka adalah tak masuk akal untuk meniru kehidupan Romawi Kuno yang punya kebiasaan menghukum mati setiap penjinah, yang mensyaratkan seorang caesar memiliki latar belakang militer, merangsek sampai keakar-akarnya setiap pemberontakan,  bagi —misalnya—kehidupan New York abad 21. Upaya revitalisasi pun tak pernah dilakukan dengan jujur dan sepenuh hati. Dalam setiap upaya revitalisasi akan selalulah terkandung polesan dan sentuhan “masa kini”. Revitalisasi seperti ini bisa kita lihat jika kita membandingkan revitalisasi mural yang dilakukan Riviera dengan karya-karya mural abad pertengahan atau Renaissance.

Orang modern, atas dasar cara berpikirnya sendiri, selalu mengarahkan perhatian ke masa depan. Dia dipaksa untuk menemukan sesuatu yang baru agar dirinya punya makna. Dengan konsep waktu yang modern ini, sejarah sebagai suatu kegiatan pencatatan hal-hal yang telah berlangsung, menjadi kegiatan yang penting. Dan sejarah pada dasarnya merupakan semacam “catatan perjalanan” manusia dan kemanusiaan dalam perjalanannya melintasi waktu linear. “Catatan perjalanan” seperti ini merupakan pencatatan atas setiap temuan-temuan yang pernah dihasilkan. Dan setiap orang modern diharuskan mengaji sejarah, semata-mata agar dia—dalam menjalani waktu dan hidupnya—tidak mengulang apa yang telah terjadi, agar dia insaf akan hal-hal yang sudah dan yang belum ditemukan.

 

* * * * *

Epilog: Tugas Seorang Seniman Modern

Dari uraian Formalisme, kita telah tahu bahwa ruh kesenian adalah form alih-alih content. Dari tulisan tentang konsep waktu dalam kesadaran modern, kita insaf bahwa orang modern adalah eksploratif dalam spiritnya, dan selalu mencari hal [form] baru dalam mengarungi waktu dan memaknai hidupnya.

Jika kedua hal ini kita jadikan premis, maka kita bisa menarik kesimpulan perihal apa dan bagaimana tugas seorang seniman modern.

Apa?! Anda tak bisa menyimpulkannya sendiri?!!?          

 

 

 

 

(Rachmat Juhandi)

Alamat : Jl Pagarsih Gg Pasantren 31 Bandung

Tlp 08882176314

Email:  Thebolors_bujurnolols@yahoo.com atau

            Insane_kamil@yahoo.com

 

Beberapa Karya Sendiri yang Saya Sukai

•October 8, 2008 • Leave a Comment

Petani dan Air (naskah, editor, sutradara/2002)
Impian Andre Phillips (story/ 2002)
Petani Salak Sibetan (editor/2003)
Kamal (Sutradara, editor/2004)
Di Banjar Kami Belajar (Sutradara, editor/2004)
Bukan Kartini (exe Produser, editor / 2004)
Tenda untuk Rakyat (editor /2006)
Jurnal Video Tandabaca (editor /2006-2007)
Jejak Air di Kampungku (sutradara, editor /2008)
Tenda untuk Rakyat 2 (sutradara, editor / 2008)
…..