Seni Rupa yang tak punya Ruh
Formalisme berpandangan bahwa form-lah—alih-alih content—yang menentukan kualitas kekaryaan dari suatu karya seni. Form—alih-alih content—merupakan ruh dari suatu karya seni. Dan dalam kerangka berpikir modern, seniman harus selalu menghasilkan kebaruan dalam form [perkakas-perkakas ekspresif perupaan] medium keseniannya. Dia haruslah selalu beranggapan bahwa kondisi kesenian di masanya sedang mengalami krisis dan menghadapi kebuntuan, dan karenanya dia harus memandang bahwa tugasnyalah untuk memberikan jalan keluar bagi krisis “formal” yang ada. — — Dan tugas mencari jalan keluar bagi krisis “formal” ini merupakan hakikat seorang seniman modern; tugas inilah yang menerakan seorang individu predikat seniman.
Perlu diinsafi bahwa krisis tersebut harus diartikan sebagai kebuntuan dalam perkakas-perkakas ungkap [expressive devices], berupa kemandegan-kemandegan representasi ruang dalam dua dimensionalitas kanvas, ketaksempurnaan representasi objek, relasi Seniman dengan Alam—sekedar menyebutkan beberapa contoh. Meski terasa berlebihan, ini perlu ditekankan mengingat kesenian Indonesia memahami krisis tersebut sebagai suatu krisis sosial dan politik.
Apa yang terjadi ketika krisis “formal” dunia kesenian dipahami sebagai krisis sosial?
Saya pernah membaca buku kumpulan puisi para penyair Belanda dan Indonesia. Ada sesuatu yang aneh didalamnya, para penyair Belanda dalam karyanya tidak merasa berkecil hati untuk menceritakan anjing kesayangannya, pagar rumahnya. Meski menceritakan hal-hal yang kecil, apolitis bahkan afilosofis, semua tulisan mereka tetaplah karya sastra. Ada “sesuatu” yang membuat tulisan-tulisan mereka sebagai sebuah karya sastra. Namun ketika saya membaca karya-karya penyair Indonesia, tulisan-tulisannya penuh dengan hal-hal yang “besar” dan “mewah”. Kekerasan, kebrutalan militer, kesepian, keterasingan hidup dan cara pikir urban, konsumerisme, ketertidasan buruh, kritik pada rejim yang berkuasa, nasionalisme yang memudar, keserakahan manusia, kritik atas rasio, pers yang mandeg—inipun sekedar menyebutkan beberapa contoh.
Pada kesempatan yang lain, saya menonton festival film pendek Prancis-Indonesia. Keanehan serupa terjadi pula. Film-film karya film-maker Indonesia—yang kebanyakan adalah karya para mahasiswa IKJ—memuat tema-tema yang secara politis lantang, filosofis, yang pada pokoknya membikin dahi berkerut. Sementara hal-hal formal—hal-hal yang merupakan ruh dari kesenian, semisal angle kamera, teknik-teknik editing masihlah konvensional dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Keanehan ini bisa disaksikan pula dalam medium-medium kesenian yang lain. Yang paling jelas terlihat adalah dalam dunia seni rupa.
Tampaknya seniman Indonesia sudah lebih mengutamakan content—alih-alih form—dalam kegiatan berkeseniannya. Jika kita masih setia pada pandangan Formalisme, maka praktek berkesenian ini adalah praktek berkesenian yang tanpa form. Dengan kata lain, praktek berkesenian yang tak memiliki ruh sama sekali!
Lalu apa yang terjadi dalam kehidupan kesenian jika para senimannya mulai menfokuskan diri pada dan melebihpentingkan content sebagai unsur utama sebuah karya seni? Menggunungnya “karya-karya” seni yang menyuarakan kritik sosial, karya yang mengumbar analisis sosial—yang diam-diam sebenarnya hendak mengesankan kerumitan cara berpikir pembuatnya. Yang mengerikan adalah ini: content menjadi alat ukur bagi kekaryaan suatu lukisan/karya seni.
Karya seni yang paling lantang, yang paling pedas, yang tak kenal takut dalam menyuarakan—misalnya—kritik atas pemerintah, adalah karya adiluhung; senimannya dielu-elukan dan bahkan karya yang dilarang pemerintah dengan serta merta membuat senimannya menjadi besar; sementara seniman yang bergulat dengan pencarian form baru—penjelajahan kemungkinan-kemungkinan akan penemuan elemen-elemen rupa—didefinisikan dengan sebutan seniman yang tak-kontemporer, “seniman borjuis”.
Singkatnya: kehidupan kesenian seperti ini benar-benar merupakan kehidupan kesenian yang tidak memiliki ruh. Dan yang lebih menyedihkan lagi, justru para senimannya sendiri tak menyadari bahwa keseniannya tak memiliki ruh. Jika begini adanya, mereka tak bisa diandalkan dalam menemukan form baru semenjak mereka beranggapan pencarian dan eksperimentasi form bukan merupakan wilayah garapan dirinya sebagai seorang seniman.
Lalu bagaimana proses kreatif seorang seniman dalam kehidupan kesenian yang menitikberatkan content sebagai elemen utama suatu karya? Berbeda dari kaum Impresionis yang membenamkan diri secara mendetail pada teks-teks ilmu optik, pada kajian-kajian empirisisme demi mengetahui bagaimana dan sejauh mana mata menangkap realitas, seniman yang mengutamakan content akan menghafal prasangka-prasangka yang sensasional, menghabiskan waktu dengan menghadiri diskusi dan seminar, menonton talkshow, banyak-banyak membaca koran. Namun perlu anda ketahui, penulisan berita yang berlaku di koran tidaklah akan pernah mendedah sesuatu secara mendalam. Karenanya, berapapun banyaknya koran dibaca, semua itu tak akan mengantarkan pembacanya (seniman kita) pada kedalaman. Karenanya, seniman seperti itu seperti tahi, mengambang dan selalu terombang-ambing arus. Teratai, ia hanya tahu daunnya saja, batang dan akar tak ia indahkan (PS: radikal memiliki kata dasar radix=akar); diajak menyelam, seniman seperti itu kewalahan : tak tahu ekonomi pernapasan—terlalu sering muncul ke permukaan— —tapi dengan gagah dan bertepuk dada berkata, “tadi aku menyelam! Maka aku adalah seorang penyelam!” Dan itulah kenapa statemen-statemen yang termuat dalam karyanya selalu dangkal dan tak pernah mendalam.
Lalu kenapa para seniman menganut pandangan seperti itu? Barangkali mereka hendak mengekspresikan kepeduliannya atas mereka yang teraniaya dan tertindas. Barangkali mereka hendak melahirkan pencerahan, pendidikan-kritis, penyelamatan atas rakyat melalui karya-karya yang mereka hasilkan. Namun mari saya katakan sekarang, pencerahan, penyelamatan dan hal-hal “besar/agung” semacam itu tidak akan terejawantah dalam kehidupan kongkrit melulu melalui karya seni. Bahkan sejuta lukisan yang menggambarkan inferioritas kaum wanita—misalnya—tidak akan bisa mengubah kondisi sosial-politik gender yang ada. Ratusan LSM sendiri, yang memiliki begitu banyak kegiatan yang programatik, sistematis, dan terencana, belum pernah membuahkan pencerahan yang diharapkan.
Menurut hemat saya, lebih baik semua “ide” itu jangan diekspresikan melalui karya seni tapi mendingan dituliskan saja dalam bentuk artikel dan dikirim ke koran. Ini lebih baik dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa sebuah artikel lebih komunikatif (artinya pesan yang hendak disampaikan gampang ditangkap dan menghindarkan bias-bias penafsiran yang tak perlu dibanding melalui karya seni yang seringkali njlimet, multi-tafsir, kriptis), jauh lebih masif dalam penyebarannya (artinya sanggup menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu yang relatif bersamaan—jauh lebih menguntungkan dibanding pameran yang hanya dapat menampung segelintir orang), dan membutuhkan dana yang minim dibanding kanvas atau tumpukan radio dan tv bekas!
Lalu bagaimana rupa seniman dalam kehidupan kesenian yang memfokuskan diri pada dan melebihpentingkan content seperti ini? Ia tak beda dengan seorang konsumen dalam menjalani hidupnya. Alih-alih bereksplorasi sendiri dalam menemukan perkakas-perkakas ungkap yang baru, dia menghabiskan waktunya dengan membuka telinga lebar-lebar demi memantau perkembangan baru dalam seni rupa dunia—dan ini benar-benar tak berbeda dengan diri kita yang selalu menunggu-nunggu dipasarkannya produk terbaru dari Nike atau Levi’s.
Mencari form baru, mencari jalan keluar bagi kemandegan estetika, yang merupakan tugas hakiki seorang seniman modern—tugas inilah sebenarnya yang memberikan seseorang predikatnya sebagai seniman; suatu tugas yang memberikan kemungkinan bagi dirinya untuk melahirkan suatu aliran seni lukis berskala dunia—dia mandatkan begitu saja kepada seniman bangsa lain.
Layaknya seorang konsumen, ketika mereka mendengar lahirnya suatu gaya atau aliran baru di luar negeri sana, mereka dengan tak ragu, tak tahu malu, tak berkecil hati, tanpa perlu mengetahui origin-nya, tanpa berpikir panjang, mengadopsinya mentah-mentah. Dan yang lebih memilukan lagi, dalam melakukannya mereka merasa bangga dan bertepuk dada, “Aku, si seniman yang tak ketinggalan jaman!”— —Duh… mereka tak pernah berkaca pada jalan hidup Gogh atau Cézanne.
Lalu pertanyaannya: masih layakkah seniman seperti itu—seniman yang berlaku layaknya seorang konsumen, seniman yang dapat dipastikan tidak akan menyumbangkan jalan keluar bagi krisis “formal” kesenian, seniman yang tak pernah bersentuhan dengan hal-ihwal form, seniman yang tidak memiliki ruh, seniman yang punya spirit meniru segala yang “berbau luar negeri” agar kelihatan kontemporer—disebut sebagai seniman? Akankah mereka memberikan sumbangan pada kehidupan kesenian dunia? Akankah seniman seperti itu bakalan memiliki nama sebesar Picasso atau Gogh atau Warhol atau Nash atau Klee? (Karena, bagaimanapun, sejarah kesenian modern pada hakikatnya merupakan kegiatan pencatatan penemuan-penemuan form yang telah dilakukan, dan bukan pencatatan atas content suatu karya.) — — Dan perlu kita tahu bahwa Picasso dicatat sejarah karena dia menghidupkan kubisme dan bukan karena dia menggambarkan apel, biskuit, gitar, wanita, meja bahkan Guernica. Dengan kata lain, Picasso memiliki nama besar bukan karena content dari lukisan-lukisannya.
Dan perlu kita camkan juga bahwa tugas par excellence seorang seniman modern adalah penemuan form baru dalam dunia kesenian. Ini berarti bahwa memfokuskan kegiatan berkarya hanya pada content, tidak akan pernah dicatat sejarah kesenian modern dunia. Seribu karya yang memuat tema-tema politik atau filosofis bagi pelukisnya hanya menghasilkan predikat “orang bernurani”, “orang berwelas asih”, “pintar”, “memihak rakyat” tapi tidak pernah menjadikan dia seorang seniman. Dan seribu karya yang memuat tema-tema politik atau filosofis seperti itu tidak akan menjadikan dirinya sebagai seniman.
Pergeseran cara pandang dalam kesenian seperti ini patut disayangkan karena hasil dari pergeseran ini adalah kemandulan kesenian itu sendiri. Dengan memandang “kesenian … tidak lagi memperbincangkan indahnya wana, garis, dan bentuk, melainkan masalah-masalah sosial-politik lokal” itu berarti menggadaikan kemerdekaan dunia kesenian yang terangkum dalam l’art pour l’art dan sekaligus itu pula membawa kesenian pada kondisi “jahiliyah”nya. Dengan pergeseran cara pandang ini, kesenian dikerangkeng, dibatasi ruang-geraknya, dibatasi wilayah eksplorasinya dan dipaksa hidup berparasit kembali. Jika pada masa-masa pra-modern kesenian hidup berparasit pada agama dan istana, sekarang kesenian berparasit pada politik—atau jika anda mau, berparasit pada “kepedulian sosial”.
In summa: kita telah terlalu lama dan terlalu serius untuk menekankan content sebagai unsur-utama dari suatu (penciptaan) karya—dan celakanya kita (tentu saja sebagai seniman modern) tidak sadar bahwa sebenarnya kita telah tersesat dengan berbuat itu. Dan celakanya kita tidak menyadari bahwa sebenarnya dengan berbuat seperti itu kita telah membunuh kesenian, telah membenamkan kesenian pada jurang kegelapan.
* * * * *
Lalu bagaimana seharusnya seniman modern?
Dan seharusnya seniman modern memposisikan dan memandang diri untuk selalu berada di depan dan melampaui pikiran masyarakat namun bukan dalam menganalisis kondisi sosial, bukan demi mengkritisi suatu rejim, bukan demi mengendus segala kebobrokan dan keabsurdan eksistensi manusia—seperti yang biasa dianut para seniman yang mengedepankan content sebagai unsur utama karyanya—tapi terdepan dan melampaui weltanschauung masyarakat dalam menyadari (biasanya secara intuitif) bahwa estetika kontemporer, form yang ada, mode persepsi yang berlaku di jamannya bukanlah sesuatu yang bersifat objektif (‘diluar sana’), tidaklah bersifat alamiah, bahkan tidak ilahiah, tapi semata-mata merupakan hasil konstruksi manusia. Dengan kata lain: semua itu bisa dibongkar! Dalam jargon Kiri, seniman yang seperti ini adalah orang yang telah terbebas dari kesadaran palsu. Aih, gagahnya…
(Rachmat Juhandi)
Alamat : Jl Pagarsih Gg Pasantren 31 Bandung
Tlp 08882176314
Email: Thebolors_bujurnolols@yahoo.com atau
Insane_kamil@yahoo.com