Arsip untuk September, 2008

Keroncong: Romantik, Antik, dan tak Berkutik

saya menyukai banyak jenis musik. salah satunya keroncong.

waktu umur 8 tahun ibu saya yang dulunya penyanyi amatir pertama kali mengajarkan saya beberapa lagu:

Ibu Pertiwi, Hari Merdeka, dan Kerocong Bandar Jakarta. Setelah saya hapal kemudian beliau mengajarkan lagu-lagu lain:

Langgam Bunga Anggrek, Sampul Surat, dan Terkenang-Kenang. Belaiu tidak mengajarkan lagu anak-anak, karena pada saat itu banyak didengar di teve dan radio untuk dihafal.

Sampai saat ini lagu-lagu yang diajarkan ibu saya itu, dan beberpa lagu lain yang juga diperkenalkan pada saya, masih saya hapal dan sukai untuk dimainkan.

pada saat saya smp, di rumah saya ada beberapa kali latihan keroncong bapak dan teman-temannya digelar. saya suka keroncong.

Keroncong diyakini sebagai musik asli Indonesia. Walaupun instrumen utama keroncong adalah ukulele yang dibawa orang-orang portugis, namun ia telah dimainkan dengan cita rasa orang maluku, dayak, melayu, jawa, bugis; orang Indonesia.

Konon penggunaan instrumen impor itu dilakukan oleh masyarakat bawah (budak?) yang bekerja pada orang portugis dan belanda.

Dalam hal instrumen saya melihat kesamaan pola akulturasi keroncong dengan kelahiran musik blues di amerika.

Dalam masa perkembangannya, keroncong pernah mengalami masa keemasan yaitu sekitar jaman kemerdekaan sampai tahun 60-an. Di masa itu misalnya, Presiden Soekarno pernah memprakarsai serial album keroncong bertajuk Keroncong Galian Bung Karno.

Lazimnya musik yang berkembang di kalangan masyarakat maka keroncong biasa dimainkan dengan penuh keakraban dengan penonton.

Pada panggung musik keroncong sebuah kelompok keroncong biasanya menyuguhkan dua bagian pentas yaitu bagian awal mereka akan memainkan repertoar yang sudah disiapkan dan bagian pada kedua akan terjadi interaksi dengan para penonton yang mencakup pemenuhan permintaan lagu dan mengiringi penonton yang mau menyanyi.

Jika kita lihat acara musik keroncong di televisi sekarang maka kita tidak akan melihat kebersahajaan musik keroncong itu.

Para pemain dengan seragam batik dibelakang penyanyi duduk berjajar memainkan instrumennya dengan wajah serius dan mulut tertutup rapat, sementara sang penyanyi berdiri tegak melantunkan lagunya. Ia tidak beranjak.

Hal yang tak kalah pentingnya dalam perkembangan musik keroncong adalah persentuhannya dengan musik tradisonil terutama musik jawa. Penggunaan instrumen keroncong mulai mengadopsi pola gamelan begitu pula dengan cara bernyanyi (cengkok).

Ini merupakan fase yang penting dalam pertumbuhan musik keroncong sebab dengan berasimilasinya musik keroncong dengan musik dan budaya jawa maka ia ikut tersebar bersama dominasi budaya jawa yang mencapai hampir wilayah nusantara.

Bahkan dalam penjurian lomba nyanyi bertaraf nasional pun bukan hanya teknik menyanyi yang benar yang dinilai namun juga cengkok jawa dipercaya sebagai kebenaran dalam menyanyikan lagu keroncong.

Tingkat kesulitan bernyanyi dengan cengkok jawa ini barangkali yang membuat dalam nyanyian keroncong jarang menggunakan dua atau tiga suara.

Cara pukul kendangan dan ritme gamelan ini juga barangkali yang membuat lagu-lagu dengan birama ¾ jarang dimainkan.

Sejak keroncong ”di-jawa-kan” kita terbiasa melihat orang memainkan keroncong dengan mengenakan busana batik dan kebaya, pakaian orang jawa (tengah).

Hal lain yang menjadi stereotype keroncong adalah lirik-lirik yang romantik.

Kecintaan akan tanah air, seolah-olah tidak ada penebangan liar hutan dan kelaparan, kekasih yang jelita bagai bulan, lagu melepas orang bertempur yang sampai tahun 2000-an tak tergantikan, dan pantun yang itu-itu juga bikin anak muda menganggap ‘keroncong itu musik engkong gue’, atau musik yang hanya bisa dinikmati para purnawirawan.

Benarkah anak muda tidak bisa menyukai keroncong? Jika ya, siapa yang membuatnya begitu?

Merchandise: Beatles dan infotainment

Saya mulai menyukai beatles saat kelas 5 sd. Sejak saat itu saya mulai menyisihkan uang jajan untuk membeli kaset-kaset beatles di loakan Cihapit atau Jamika bandung. Saat smp saya diberi kamar sendiri dan mulailah saya menempelkan banyak poster beatles, menerjemahkan lirik-lirik lagunya, belajar main gitar, menggunting berita koran-majalah yang memuat kabar tentang beatles dan mantan anggotanya, menonton video-videonya…

Mungkin saking terjerumusnya saya menyukai beatles sampai-sampai saya tidak bisa menjawab kalo ada orang bertanya, “kenapa kamu suka beatles?”…

Seiring dengan waktu saya juga mulai menggemari musik-musik lain. Lima favorit saya sejak smp: Beatles, Queen, Rolling Stones, Deep Purple, dan Bee Gess. Entah mengapa, padahal masa saya tidak sejaman dengan kejayaan mereka. Barangkali saya termasuk orag Tel-mi, telat milih.

Sebagai orang yang telat “mengkonsumsi” The Beatles dan pengen tahu apa yang membuat mereka disukai banyak orang saya mencari tahu bagaimana trend musik saat mereka mulai muncul. Lumayan seru juga mendengar musik-musik lama Eropa-Amrika tahun 60-an (sesuatu yang mungkin mudah didapat orang sekarang lewat internet). Dari situ mulai saya dapat gambaran kenapa mereka disebut pembaharu musik. Ini persis sama dengan mencari tahu kenapa Van Gogh atau Chairil Anwar dikenang orang sebagai progresif; membandingkan karya-karyanya dengan seniman lain di jamannya.

Dan mereka berbeda.

Pernah dulu saya dikasih tahu tentang dahsyatnya para beatlemania menyambut the beatles di panggung, poni mereka, jas yang mereka kenakan, perselisihan dengan Stuart Sutcifle, dan hal lainnya. Tapi koq rasanya bukan itu yang membuat mereka besar. Menurut saya yang terpenting adalah unsur-unsur musiknya dulu yang “berbeda”. Freddie Mercury tidak besar karena ia homo, Van Gogh dipuja bukan karena ia memotong telinganya sendiri, Chairil tidak dicatat besar sebagai penderita sifilis, Picaso juga tak harus disorot sebagai perayu. Karya-karya merekalah yang telah menyumbang dunia seni, bukan hal-hal lain di luar itu.

Sebagai orang yang bukan sarjana seni memang sulit bagi saya membedah notasi Betales dan membandingkannya dengan notasi musik lain di jamannya. Saya hanya mengandalkan perasaan saja bahwa mereka telah memainkan alat musik dan bernyanyi dengan cara yang baru. Mereka mengolah alat-alat keseniannya dengan suatu cara tertentu. Sehingga besar, menginspirasi banyak orang.

Musik The Beatles, sapuan Van Gogh, diksi Chairil, garis Picaso, film Hitchock, melodi bang Rhoma, tulisan Marquez, saya kira adalah sesuatu yang jika kita pelajari seksama akan memberi banyak ilham. Dan sesekali bukan hal lainnya.

Saya beruntung punya beberapa teman yang sekolahnya di musik, seni rupa, dan sastra. Mereka mengajarakan saya, melengkapi pengetahuan kesenian yang saya dapatkan di smp, mengenai karya-karya mereka, termasuk beberapa lagu The Beatles. Apa yang mereka ceritakan pada saya berbeda dengan apa yang baisa saya temuai di media massa yang lebih banyak menceritakan hal ikhwal kehidupan yang dahsyat dari para maestro itu, bukan karya-karyanya secara objektif.

Terima kasih para seniman.

Saya dan Handycam

saya dan handycam

tahun 2001 saya diminta seorang teman untuk menyiapkan suatu unit produksi video

yang bisa membuat vcd-vcd untuk keperluan pendidikan alternatif. modal kami yang

utama waktu itu adalah: Keinginan.

diselingi oleh pekerjaan-pekerjaan seperti mengedit buku, bikin gambar ilustrasi buku,

dan ngamen keroncong untuk mengisi perut, saya mulai mencari uang untuk membeli peralatan

bikin film sederhana. caranya adalah dengan menulis beberapa kertas gagasan film dan menjajakan

bagi siapapun yang tertarik dan mau membiayainya.

sampai kemudian ada satu pihak mau “memberi” sejumlah uang untuk menambah biaya pembuatan video

yang diperuntukan bagi para petani. uang itu kami belikan sebuah handycam sederhana. dan mulailah saya

dan teman saya rachmat trihartadhi berkeliling di tujuh kabupaten di jawa, memberanikan diri membuat

film dokumenter.

beberapa bulan kemudian jadilah Petani dan Air : kedaulatan petani atas sumber daya air.

bertemu dengan banyak petani di beberapa daerah di jawa membuat saya mengenal dan berkawan

dengan beberapa dari orang-orang hebat itu; para petani dan kelompoknya yang bekerja dalam jaman yang sulit,

penuh tekanan, dan kebutuhan. yang saya temui mayoritas adalah petani kecil, penggarap, dan para

petani yang berjuang merebut sejengkal tanah dari para pengusaha komoditas pertanian-kehutanan, dan

mereka yang sumber kehidupannya dipagari oleh yang namanaya investasi.

dengan perkenalan itu kemudian kami lebih banyak membuat video-video yang lebih sederhana; berbujet minim,

dikerjakan cepat, dan mengangkat persoalan-persoalan lokal petani dan lingkungannya di beberapa tempat di jawa tengah,

jawa barat, jogja, dan bali.

saya percaya bahwa dengan sebuah handycam dan sebuah komputer (yang akhirnya bisa kami beli dengan susyah parah)

banyak yang bisa kita buat. i want to make it easier. hal -hal kecil yang dibuat orang kecil untuk masyarakat kecil.

entahlah apa itu berguana bagi nusa dan bangsa atau dunia pertanian, madam ivan yang menentukan heheh..

tapi barangkali saat itu saya belum begitu antusias pada parpol, dewan, celebritas, dan

televisi maupun festival.

sebuah handycam bagi saya lumayan bisa merekam banyak hal. untuk yang khusus dan karib.

itu dulu…bersambung…

Jendela Kartini: Perjalanan Rembang

Jendela kartini

Jendela kartini besar sekali.

“disinilah dulu ibu kartini mengajar murid-muridnya membaca-tulis, membatik, and lain-lain”.

Saya berdiri di bawah jendela besar itu, mengagumi besar betul itu jendela, kemudian berfoto-gaya. Di dalam ruangan saya mendengar penjelasan pemandu yang sopan itu. (Dia tidak tahu kalo saya bukan salah satu anggota rombongan pejabat yang sedang berkunjung itu, Cuma penyelinap). Terasa di ruangan ini ada perawatan yang cukup baik terhadap benda-benda peninggalan kartini. Di ruang pamer pun saya melihat beberapa benda, sebagian diantaranya dikurung kaca; lukisan-lukisan karya kartini, buku-buku, kamar mandinya, alat-alat membatik, furnitur, sampai kliping-kliping mengenai beliau.

Sampai kemudian saya melewati sebuah pintu kecil yang tampaknya jarang dilewati, menemukan lima ruangan di belakang museum itu. Dibatasai oleh pagar belakang ruangan-ruangan itu berantakan dan sama sekali tak terawat.

“disnilah dulu para selir ditempatkan, dikunjungi secara berkala dan bergilir oleh suaminya ibu kartini”.

Saya berdiri di ambang salah satu pintu ruangan kotor itu.

sang pemandu melanjutkan ceritanya sambil matanya memandang langit-langit kamar yang nyaris runtuh, “mungkin penyebab ibu meninggal muda adalah ia tidak tahan menanggung derita dimadu ini”, katanya lirih. Seperti tidak ditujukan pada siapapun.

 

Keroncong dan Saya: Cengkok Batu

Keroncong dan musik

Saya mengenal musik keroncong dari kaset-kaset yang diputar orang tua saya sejak kecil. Ibu saya yang penyanyi amatir di masa mudanya kemudian mengajarkan beberapa lagu pada saya. Tiga lagu yang diajarkan pada saya adalah Ibu Pertiwi, Hari Merdeka, dan Keroncong Bandar Jakarta. Kemudian beberapa lagu lain yang sampai sekarang pun masih saya hapal. Saya menyukai lagu-lagu itu seperti lagu-lagu dari jenis musik lainnya.

Tahun 1995 saya ikut membentuk orkes keroncong Rindu Order di kampus. Kami belajar dari teman-teman pengamen Terminal Kebon Kelapa Bandung yang tergabung dalam Little Keroncong. Mereka orang-orang hebat yang belajar musik secara otodidak: di jalanan dan bis antar kota. Setelah menjadi pemain musik keroncong kesukaan terhadap musik keroncong bertambah karena berbagai teknik yang saya pelajari. Saya menikmatinya seperti saya menikmati belajar musik blues dan jazz.

Saya tidak punya kelompok keroncong yang menjadi idola. Namun saya sangat respek pada Sinten Remen-nya Jaduk Ferianto dan Sarekat Keroncong (Bandung). Musik mereka terbuka namun tidak genit. Maksud saya, mereka memainkan musik secara optimal menggali unsur-unsur musiknya, tanpa harus pake dandanan yang macam-macam di panggung.

Dari berbagai versi catatan sejarah tentang musik keroncong, saya menyukai versi yang membandingkan sejarah musik keroncong dengan musik blues di amerika. Musik hybrid, instrumen temuan, perbudakan, dan ritus agama merupakan unsur-unsur yang ada di keduanya. Namun tidak seperti blues yang kemudian berkembang menjadi jazz dan rock yang sanggup diterima banyak kalangan dan media, keroncong belum bergaya dan dimainkan dengan terbuka seperti sepupunya regae.

Hal penting dalam sejarah keroncong adalah penggunaan cuk (ukulele) dan gitar yang kemudian menjadi ciri pokok keroncong. Pemakaian alat-alat itu sangat global, seperti kita menggunakan keyboard atau piano pada masa kini. (makanya saya nggak paham bagaimana bisa banyak orang menggolongkan musik keroncong sebagai musik tradisionil!).

Bagian sejarah penting lain dalam perkembangan musik keroncong adalah adanya dominasi budaya jawa di indonesia. Kesenian jawa (Mataram?) telah memberi sumbangan yang besar pada musik keroncong melalui harmonisasi yang rinci, kendangan celo, dan…kebaya haha.

 

Cuk, cak, celo, gitar, bas, biola, flute adalah instrumen yang diajarkan pada saya sebagai instrumen tetap di orkes keroncong. Dalam pengalaman saya dari th 95 sampai sekarang, kami sering menambahkan beberapa instrumen lain seperti mandolin, kendang, keyboard, trumpet, backing vokal, dan saxsophone.

 

Menurut saya musik keroncong adalah musik modern yang merakyat, bukan musik tradisionil yang kaku dan renta. Jika ia selalu kita tempatkan sebagai musik masa kini maka akan selalu terbuka pada pembaharuan dan pasar.

Musik keroncong bagi saya punya beberapa ciri; pertama, dia campuran antara musik (notasi) barat dengan estetika lokal seperti jawa, papua, ambon, melayu, cina, dsb. percampuran ini juga ditandai dengan instrumen yang berpadu antara golongan lute dan perkusi lokal.

Ciri kedua adalah adanya beberapa pola bentuk lagu seperti keroncong, langgam, stambul, dan beberapa pola lain yang dibentuk dari estetika lokal nusantara.

Ciri ketiga adalah harmonisasi. Saya sulit menjelaskannya secara teoritik karena saya bukan lulusan sekolah musik, namun saya melihat adanya keselarasan (bukan berbarengan) dari banyaknya instrumen yang digunakan.

 

Saya barangkali berbeda dengan kebanyakan orang yang menempatkan cengkok bernyanyi sebagai salah satu ciri keroncong. Bagi saya cengkok yang “diwajibkan” itu hanya punya beberapa orang jawa saja, yang kebetulan punya kesempatan untuk menyebarkan seleranya lewat lomba dan festival bintang radio dan televisi. Tak ada cengkok keroncong, yang ada cengkok mus mulyadi atau cengkok waljinah saja. Salut buat beliau-beliau itu.

Musik masa kini, terutama kaitannya dengan media penyebarannya menurut saya memilki peluang yang luas bagi pekerja keroncong untuk turut bertempur dengan elegan. Musik masa kini variatif seperti juga keanekaragaman radio dan televisi serta panggung sebagai arenanya.

Jika orang banyak bilang keroncong perlu dilestarikan, saya cenderung lebih suka istilah Keroncong perlu diHIDUPkan. Hidup artinya bernafas, berinteraksi, mengalami suka-duka, bertengkar, bercinta, mematut diri, bekerja, bekerja, dan bekerja. Gak harus jadi remaja dengan memelas, tapi hidup. Ia tidak disikapi sebagai warisan budaya yang harus dikurung kaca melainkan dimainkan dengan keriangan. Buat apa lestari tapi berupa arca atau mumi. Menurut saya kita pun tak perlu mendandani diri seperti tessy untuk memainkan keroncong agar disukai lebih banyak orang lagi, yang wajar dan gaul saja. Penggarapan musiknya lah yang terpenting, baru kemudian menampilkannya di televisi dan panggung.

Bagi saya video klip yang bagus dan pentas-pentas adalah media yang cocok untuk mengenalkan musik keroncong. Juga alangkah bagusnya jika lebih banyak lagi buku atau edia ceak lain yang menulis apresiasi dan notasi musik keroncong. Walaupun buku memiliki penggemarnya sendiri yang berbeda dengan penggemar musik, namun ia dapat melengkapi masyarakat dengan pemahaman dan catatan penting lainnya mengenai suatu kesenian. Hal pokok yang dapat diguakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya. Buku atau tulisan dapat memperkaya penggemar keroncong dengan wawasan dan mengilhami kreativitas, namun musiknya sendiri lebih berhak untuk digauli secara lebih mesra.

(tulisan diatas merupakan suntingan dari wawancara yang diolakukan seorang teman pada saya tentang musik keroncong)

Atas nama Cinta dan Perjalanan: Nowhere Man

Salam.

saya cerita tentang apa yang saya kerjakan, yang saya pikirkan, dengar, karena barangkali dengan begitu saya dapat belajar dari orang lain yang mau berbagi tentang hal-hal yang sama dan berkaitan. kalau pun tidak ya tak mengapa.

tabik…

ada yang tak mampu kulupa...

ada yang tak mampu kulupa...

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Penanggal

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.