Saya mulai menyukai beatles saat kelas 5 sd. Sejak saat itu saya mulai menyisihkan uang jajan untuk membeli kaset-kaset beatles di loakan Cihapit atau Jamika bandung. Saat smp saya diberi kamar sendiri dan mulailah saya menempelkan banyak poster beatles, menerjemahkan lirik-lirik lagunya, belajar main gitar, menggunting berita koran-majalah yang memuat kabar tentang beatles dan mantan anggotanya, menonton video-videonya…
Mungkin saking terjerumusnya saya menyukai beatles sampai-sampai saya tidak bisa menjawab kalo ada orang bertanya, “kenapa kamu suka beatles?”…
Seiring dengan waktu saya juga mulai menggemari musik-musik lain. Lima favorit saya sejak smp: Beatles, Queen, Rolling Stones, Deep Purple, dan Bee Gess. Entah mengapa, padahal masa saya tidak sejaman dengan kejayaan mereka. Barangkali saya termasuk orag Tel-mi, telat milih.
Sebagai orang yang telat “mengkonsumsi” The Beatles dan pengen tahu apa yang membuat mereka disukai banyak orang saya mencari tahu bagaimana trend musik saat mereka mulai muncul. Lumayan seru juga mendengar musik-musik lama Eropa-Amrika tahun 60-an (sesuatu yang mungkin mudah didapat orang sekarang lewat internet). Dari situ mulai saya dapat gambaran kenapa mereka disebut pembaharu musik. Ini persis sama dengan mencari tahu kenapa Van Gogh atau Chairil Anwar dikenang orang sebagai progresif; membandingkan karya-karyanya dengan seniman lain di jamannya.
Dan mereka berbeda.
Pernah dulu saya dikasih tahu tentang dahsyatnya para beatlemania menyambut the beatles di panggung, poni mereka, jas yang mereka kenakan, perselisihan dengan Stuart Sutcifle, dan hal lainnya. Tapi koq rasanya bukan itu yang membuat mereka besar. Menurut saya yang terpenting adalah unsur-unsur musiknya dulu yang “berbeda”. Freddie Mercury tidak besar karena ia homo, Van Gogh dipuja bukan karena ia memotong telinganya sendiri, Chairil tidak dicatat besar sebagai penderita sifilis, Picaso juga tak harus disorot sebagai perayu. Karya-karya merekalah yang telah menyumbang dunia seni, bukan hal-hal lain di luar itu.
Sebagai orang yang bukan sarjana seni memang sulit bagi saya membedah notasi Betales dan membandingkannya dengan notasi musik lain di jamannya. Saya hanya mengandalkan perasaan saja bahwa mereka telah memainkan alat musik dan bernyanyi dengan cara yang baru. Mereka mengolah alat-alat keseniannya dengan suatu cara tertentu. Sehingga besar, menginspirasi banyak orang.
Musik The Beatles, sapuan Van Gogh, diksi Chairil, garis Picaso, film Hitchock, melodi bang Rhoma, tulisan Marquez, saya kira adalah sesuatu yang jika kita pelajari seksama akan memberi banyak ilham. Dan sesekali bukan hal lainnya.
Saya beruntung punya beberapa teman yang sekolahnya di musik, seni rupa, dan sastra. Mereka mengajarakan saya, melengkapi pengetahuan kesenian yang saya dapatkan di smp, mengenai karya-karya mereka, termasuk beberapa lagu The Beatles. Apa yang mereka ceritakan pada saya berbeda dengan apa yang baisa saya temuai di media massa yang lebih banyak menceritakan hal ikhwal kehidupan yang dahsyat dari para maestro itu, bukan karya-karyanya secara objektif.
Terima kasih para seniman.


0 Tanggapan ke “Merchandise: Beatles dan infotainment”