Arsip untuk Oktober, 2010

DUA TANGGAPAN ATAS CENGKOK BATU

Berikut ini adalah dua tanggapan atas tulisan saya Keroncong dan Saya: Cengkok Batu
Dua komen ini sengaja saya tampilkan sebagai tulisan baru di blog ini karena menarik buat saya. Semoga juga buat Anda.

IMAM D KAMUS
Desember 25, 2008 pukul 10:54 am
Riwayat keroncong bukan hanya meliputi musiknya (tekstual) tetapi lebih dari itu (dan inheren) merupakan riwayat perjalanan orang, orang, rombongan dan masyarakat pendukungnya (kontekstual). semula saya berkeyakinan bahwa bentuk dan struktur musik keroncong-lah yang paling penting untuk mengidentifikasi apa itu keroncong kelahiran, pertumbuhan dan perkembangannya. Tetapi rupanya ada hal lain yang tidak kurang pentingnya yaitu bagaimana pendukung budaya musik keroncong memaknai prilaku musikal dan budayanya.
keroncong tetap punya daya hidup yang luar biasa. namun resistensinya bisa membuat keroncong tidak populer di kalangan ‘anak muda’. bagaimana tidak, misalnya lagu2 yang muncul merupakan lagu2 lama, sedangkan ‘anak muda’ ssekarang bahkan tidak memahami teks lagu2 tersebut. padahal kekuatan keroncong sebagai musik vokal (resitatif akompanyemen) berada pada syairnya. lalu bagaimana dengan bentuk musiknya?
Musik keroncong mengadopsi lagu2 populer awal abad ke-20 menjadi bentuk langgam keroncong, lalu mengutip (meminjam?) repertoar yang dipakai Komedie Stambul menjadi bentuk Stambul Keroncong. lalu muncul langgam Jawa, langgam Sunda, Makasar, dll.
…(Bersambung…)

OLSY,
Oktober 15, 2010 pukul 2:32 am
Lama sekali saya menunggu implementasi dari kata “bersambung…” yang diapit oleh tanda kurung pada ujung komentar Imam D Kamus. Dua tahun.

Tapi baiklah, ketimbang menunggu tanpa pemberhentian, saya ikut ngobrol aja tentang keroncong.

Bagi saya, keroncong bukan sekadar peristiwa musikal. Bila berbicara keroncong dalam pengertian yang luas, kita akan bertemu dengan indeks-indeks kebudayaan yang serupa dengan Jazz yang dari padanya lahirlah karya-karya kejeniusan berupa rock, blues dan juga swing sebagai anak sulung jazz.Oleh karena itu, keroncong harus dipahamai sebagai sebuah peristiwa budaya yang memanfaatkan segala kemungkinan dan segala keluasan musik. Tanpa itu kita hanya akan melihat keroncong sebagai sesuatu yang diam-diam dari kejauhan mengintip kejayaan musik-musik yang dikembangkan oleh kerakusan manajemen pemasaran televisi.

Urusan pragmatisme-praksis-fungsionalitas, tentu Ramses dan juga Imam D. Kamus punya kewenangan yang lebih luas untuk berbicara mengenai masalah rumah tangga keroncong; sistem penandadan irama, karakter instrumen, transformasi dan interkasi keroncong dengan jenis-jenis musik dan juga kebegajulan panggungnya, dan juga keroncong itu sendiri sebagai realitas suara bernada.

Tapi saya melihat pula ada hal lain dari keroncong yang tidak melulu masalah musik, representasi musik dan kemudian masyarakat musiknya. Keroncong dari “takdir” kemunculannya tampaknya disiapkan menjadi sebuah musik yang mampu berdialog dengan musik lain sehingga sebagai sebuah entitas kebudayaan, keroncong akan selalu ada meski manajemen pemasaran dan manajemen isu neo-lib barangkala hanya menempatkan keroncong sebagai daftar tunggu di UNESCI untuk didaulat sebagai warisan dunia, menyusul batik yang telah diakui tapi malah semakin menguatkan para pembelanja-pembelanja kelas kakap (dan tetap mengabaikan pebatik-pebatik tulen di pelosok-pelosok Jogja yang tak dihiraukan lensa kamera televisi).

Keroncong pun adalah persoalan serius tentang tafsir sejarah atas suatu kebudayaan, implementasi atas tafsir sejarah tersebut dan kesadaran musikal suatu masyarakat. Bila kita melihat kesadaran musikal suatu masyarakat lewat keroncong, saya menunjukkan Sinten Remen yang tidak hanya berhenti pada Sinten Remen. Namun, Djaduk lewat proyek lain, Lagu Natal (2006) menantang kemampuan musik gregorian (yang telah “dipopkan”) dalam memahami bahasa yang dibunyikan oleh cuk; cuk sebagai cuk.
Tuhan Sumber Gembiraku adalah lagu Katolik yang kerap menjadi bagian perayaan ekaristi. Artinya, perayaan ekaristi yang pada dasarnya adalah suatu sinkritisme Eropa terhadap tafsir atas ajaran Yesus yang Hibrani, didialogkan dengan cuk yang pesisir, egaliter, dan nusantara meski tetap berwajah Barat. Cuk ada dalam persitiwa itu, suatu peristiwa yang saat ini diharapkan kehadirannya tapi tak diakui keberadaannya; dialog atas perbedaan yang bukan soal kalah-menang. Sebagai sebuah praktek dialog, cuk pada lagu tersebut tetap berperilaku sebagai cuk sebagaimana pada keroncong.

Bagi saya pun, memperkenalkan keroncong pun tidak harus, meski sebaiknya memang iya, lewat musik keroncong itu sendiri secara utuh. Djaduk dengan lagu “Tuhan Sumber Gembiraku” telah menunjukkan cara lain memperkenalkan keroncong. Lalu, seperti yang telah disebut Ramses, hal pokok yang dapat digunakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya juga mengenai kemampuan keroncong berdialog dengan dunianya. Bondan Prakoso-Fade to Black, apapun hasilnya dan dalam kepentingan apa dilakukan, telah mencobanya.

Maka yang perlu dipikirkan, menurut saya adalah, perumusan bahasa yang lebih populer terhadap penyusunan representasi keroncong sebagai obyek historiografi dan juga representasi keroncong dalam etnomusikologi. Terlepas apakah dia kemudian diakui UNESCO apa kagak, gak jadi soal. Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong.

Dan, yang perlu dihindarkan, jangan biarkan keroncong seperti busana dan bank yang ternyata di Indonesia telah punya agama… :D

Wajah dan wajah

Saat sma, sebagai murid yang tidak rajin, saya sering menggambari buku-buku tulis saya dengan gambar wajah; berbagai wajah. Saya tidak ingat sejak kapan saya gemar menggambar wajah. Sambil menggambar wajah-wajah imajiner itu saya seringkali membayangkan dan mereka-reka karakter yang terpancar di wajah yang saya gambar. Saya tidak mahir menggambar dengan model kecuali saya terus menerus menirunya sampai “mirip”. Jadi sampai sekarang ada lima wajah yang saya hapal hingga saya bisa menggambarnya mirip yaitu wajah 4 anggota beatles dan wajah saya sendiri hehe..
Kegandrungan menggambar wajah itu kemudian berlanjut pada kesukaan membuat topeng. Membuat topeng lebih menantang daripada menggambar wajah karena dimensinya yang lebih banyak. Besaran dan komposisi organ muka menarik perhatian saya; sama menariknya ketika saya menggambari wajah para aktor sebelum mereka pentas.

Saya bukan “pembaca wajah” yang pandai menebak karakter orang dengan cara melihat mukanya, namun saat membuat topeng juga saya mengandaikan pembawaan yang mungkin dimiliki sang wajah/topeng itu. Tak jarang juga saya membayangkan suatu karakter dulu baru kemudian membuat wajah yang bisa mencerminkan karakternya itu.
Lalu bagaimana hasilnya sekarang? Belum. Saya belum jago. Masih banyak yang perlu saya pelajari tentang wajah manusia, terutama jika saya melihat wajah-wajah para tokoh dan pejabat di tivi.

Laporan dari Wasior, sabtu 9 Oktober 2010

Sabtu (9/10/2010)

Pada hari ke 4 setelah bencana (8/10), mulai terlihat alat-alat berat diturunkan ke jalan-jalan untuk membersihkan lumpur serta batu-batu dan kayu log. Jalur komunikasi menggunakan telepon selular telah normal kembali. Masyarakat yang bertahan di Wasior dan belum mendapatkan bantuan terpaksa makan seadanya, sagu, umbi-umbian, daun-daunan, dengan lauk daging lao lao (sejenis kanguru pohon) dan soa soa (sejenis kadal) yang dibakar. Masyarakat tidak berani mengambil ikan di laut karena berpikir bahwa banyak mayat hanyut sampai ke laut yang kemudian dimakan oleh ikan-ikan.

Posko hanya terlihat berdiri di Wasior Kampung , bantuan belum bisa didistribusi dengan baik, karena tidak ada kendaraan dan jalan dipenuhi lumpur serta batang pohon dan batu-batu besar. Masyarakat yang ada di kampung-kampung lain harus berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter untuk mendapatkan bantuan makanan dan pakaian. Yang dapat mencapai posko induk dan telah mendapatkan bantuan berupa beras dan mie instan, tiap hari makan mie instan, termasuk anak-anak balita, sehingga dikawatirkan akan mengalami penurunan kondisi tubuh. Banyak warga yang berjalan jauh, namun harus kembali pulang dengan tangan kosong karena stok bantuan telah habis.

Menurut kawan di posko Wasior, mulai terlihat setidaknya ada 15 kampung yang menjadi korban banjir bandang, yaitu Kampung Anggatu, Rasyei, Isui, Isei, Kubiari, Wondiwoi, Wanopi, Iriati, Manggurai, Miei, Wasior kampung, Wasior Kota, Sanduwai, Warwai, dan Rado. Yang mengalami kerusakan paling parah adalah Wasior Kota, Kampung Sanduwai, dan Kampung Rado. Di tiga tempat ini, terutama Rado, korban meninggal dan luka parah paling banyak ditemukan. Di kampung Rado hampir seluruh rumah luluh lantak dan beberapa menyisakan pondasinya saja. Sedangkan di 8 kampung, korban belum jelas terdata karena lokasinya masih sulit dijangkau.

Banjir Besar Hancurkan Kota Wasior

Senin 4 Oktober 2010, dini hari menjelang subuh, masyarakat Kota Wasior dikejutkan oleh datangnya air bah yang tiba-tiba menghantam mereka. Air bah itu membawa serta lumpur, batu-batuan besar, dan kayu log dari atas gunung meluncur turun menerjang beberapa kampung di bawahnya. Dalam sekejap, subuh yang sunyi berubah menjadi bencana penuh jerit tangis menyayat dari mereka yang tak sempat menyelamatkan diri.
Banjir terjadi setelah semalam suntuk hujan lebat melanda Kota Wasior. Hujan semalaman itu telah membuat 4 buah sungai sekitar Kecamatan Kota Wasior meluap, yaitu Sungai Sandoway, Anggrisi, Miei, Manggorai, dan Masabowai. Ada 6 kampung yang mengalami kerusakan terparah, yaitu kampung Isuy, Mangguray, Waskam, Wasior kota, Myei, dan Rado. Dua kecamatan lainnya juga terkena dampak banjir, antara lain Rasiki dan Wandiboi, namun belum teridentifikasi tingkat kerusakan dan jumlah korban disana. Air menggenang hingga siang hari, mencapai setinggi kurang lebih 5 meter.
Berbagai fasilitas umum hancur, ratusan rumah penduduk, puskesmas, toko-toko, perkantoran, dan berbagai fasilitas umum rusak berat. Setelah air surut, seluruh kota dipenuhi lumpur setinggi pinggang orang dewasa. Di beberapa tempat lumpur mencapai 2 meter, menenggelamkan rumah-rumah hingga menyisakan atapnya saja. Ketika Metro TV menayangkan gambar Wasior dari udara, tampak pemandangan mengerikan menyerupai Aceh saat dilanda tsunami.

Sampai Rabu malam (6/10) korban meninggal tercatat 89 orang, dan ratusan mengalami luka-luka. Korban terbanyak adalah anak-anak. Puluhan orang dilaporkan hilang, dan saat ini masih dalam pencarian. Diperkirakan korban akan terus bertambah karena beberapa lokasi yang masih sulit dijangkau.

Korban luka-luka dievakuasi ke kota Nabire dan Manokwari untuk mendapatkan perawatan, karena kondisi rumah sakit di Wasior juga sangat menyedihkan. Kapal-kapal Pelni yang biasanya tidak melewati rute Wasior, diarahkan untuk sandar di pelabuhan Wasior untuk membawa bantuan serta evakuasi pengungsi ke Manokwari dan Nabire. Di Manokwari, pengungsi telah mencapai 600an orang, dan diperkirakan akan terus bertambah.

Jaringan komunikasi terputus, baik telepon seluler maupun telkom tak berfungsi. Listrik juga mati total, karena fasilitas PLN terendam lumpur tak bisa beroperasi. Di malam hari Wasior gelap gulita, sementara korban selamat hanya tinggal menunggu di tempat yang kering dengan satu-satunya pakaian melekat di badan, basah dan penuh lumpur. Sementara itu bahan makanan pun sangat kurang dan bantuan masih sedikit yang datang. Ancaman penyakit kini mengintai penduduk yang selamat, antara lain malaria, diare, Ispa, dan penyakit kulit.

Penduduk sangat membutuhkan pakaian, makanan, obat-obatan, selimut, tenda, dan air bersih. Khusus untuk anak-anak sangat dibutuhkan makanan bayi dan susu. Sedangkan khusus untuk perempuan perlu ditambahkan pakaian dalam dan pembalut wanita.

Sebagai informasi: Wasior adalah ibu kota kabupaten Teluk Wondama, bagian dari Propinsi Papua Barat. Jika kita membuka peta, Teluk Wondama terletak di sepanjang leher belakang (tengkuk) kepala burung pulau Papua. Kecamatan Wasior memiliki luas wilayah sekitar 1.461,16 km2, dengan kemiringan 0-40 m dari permukaan laut. Kota ini berjarak 120 km dari Manokwari ibu kota propinsi Papua Barat. Karena tidak ada jalan darat, maka perjalanan ke Manokwari dan Nabire hanya bisa ditempuh dengan kapal laut selama kurang lebih 8 jam.

Sebelum menjadi kota, Wasior dulunya adalah rawa-rawa yang ditumbuhi sagu alam. Sedangkan di sepanjang bukit dan tepi aliran sungai adalah hutan belantara. Namun kini rawa-rawa nyaris habis ditimbun, kebun sagu ditebangi, dan hutan dibersihkan, sebagai gantinya berdiri bangunan perkantoran, perumahan penduduk, supermarket, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Di dekat Wadior terdapat kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih. Tetapi di jauh di dalam hutan, bercokol dua HPH raksasa PT. Wapoga Mutiara Timber dan PT. Dharma Mukti Persada, serta aktivitas-aktivitas illegal logging oleh para pengusaha lainnya.

Bencana Wasior adalah luka Papua dan kita semua. Namun juga pelajaran mahal bagi sebuah proses pembangunan yang dirancang asal-asalan dan tak mengindahkan keseimbangan ekosistem alam. (6/10/2010)

(Danar Wulandari October 6 at 9:49pm Report )
tulisan ini juga bisa dibaca di http://belantarapapua.org


Penanggal

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.