Ode buat Endik
Cici kelinci putih mengingat jalan setapak di pinggir sungai itu sebagai jalan pulang. Sudah dua musim ia bermain jauh. Banyak yang ia temui di pengembaraan berdebu dan berangin ganas itu. Banyak teman baru didapat, banyak permainan digelar. Kini saatnya pulang.
Cici kelinci putih melepas dahaga di tepi sungai besar. Seekor kumbang menghampirinya. “Cuaca tak menentu, sudah tak bisa kita rasakan lagi kemana awan-awan itu akan bergerak”, keluh sang kumbang. “Apakah menurutmu sungai ini pun akan mengalir ke arah sebaliknya?”
Cici kelinci putih tersenyum. Ia teringat cerita musa dan hujan api.
Saat bencana datang kita mengira-ngira apakah itu cobaan atau hukuman
Atau wujud kasih sayang
Atau bukan apa-apa; sepeti seekor sapi mengibas ekor mengusir lalat yang hinggap di punggungnya.

Hidup adalah menafsir detak jantung tuhan.
Saat hujan menarik air sungai ke pucuk bambu, Cici kelinci putih bersampan diatas drum.
Saat angin meruntuhkan gunung, ia menerbangkan layang-layang ke awan.
Saat panas matahari membakar ladang tebu, dipanggangnya ketela.
Saat gempa membalik bumi, ia bernyanyi kidung daud yang indah.
Hidup adalah menafsir anugrah.
Langit beranjak teduh di tepi sungai itu. Cici kelinci putih enggan pulang. Banyak yang mesti dikerjakan, banyak yang belum dirampungkan.
Namun ia musti pulang.



Komentar Terakhir