Arsip untuk Kategori 'Ode'

E

Ode buat Endik
Cici kelinci putih mengingat jalan setapak di pinggir sungai itu sebagai jalan pulang. Sudah dua musim ia bermain jauh. Banyak yang ia temui di pengembaraan berdebu dan berangin ganas itu. Banyak teman baru didapat, banyak permainan digelar. Kini saatnya pulang.
Cici kelinci putih melepas dahaga di tepi sungai besar. Seekor kumbang menghampirinya. “Cuaca tak menentu, sudah tak bisa kita rasakan lagi kemana awan-awan itu akan bergerak”, keluh sang kumbang. “Apakah menurutmu sungai ini pun akan mengalir ke arah sebaliknya?”
Cici kelinci putih tersenyum. Ia teringat cerita musa dan hujan api.
Saat bencana datang kita mengira-ngira apakah itu cobaan atau hukuman
Atau wujud kasih sayang
Atau bukan apa-apa; sepeti seekor sapi mengibas ekor mengusir lalat yang hinggap di punggungnya.

Hidup adalah menafsir detak jantung tuhan.
Saat hujan menarik air sungai ke pucuk bambu, Cici kelinci putih bersampan diatas drum.
Saat angin meruntuhkan gunung, ia menerbangkan layang-layang ke awan.
Saat panas matahari membakar ladang tebu, dipanggangnya ketela.
Saat gempa membalik bumi, ia bernyanyi kidung daud yang indah.
Hidup adalah menafsir anugrah.

Langit beranjak teduh di tepi sungai itu. Cici kelinci putih enggan pulang. Banyak yang mesti dikerjakan, banyak yang belum dirampungkan.
Namun ia musti pulang.

Y

Aku melihat tepian jakarta dari jendela awan, seperti menatap papan catur usang. Yang mati dikorbankan bertumpuk gelimpang di pinggir arena. Pernah ada dan tak sungguh-sungguh hilang. Tubuh-tubuh berbalut ampas kopi dan abu rokok menunggu giliran dimainkan lagi jika raja baru bertahta. Untuk disingkirkan lagi.

Sama seperti anak-anakmu, pertiwi, berjejal di kereta ekonomi menuju lampu bernama kota. Tak pernah yakin bisa bertahan, tak pernah percaya tanah cukup ramah. Hidup hanya bersandarkan pada siapa tahu.

“Di sini akan dibangun jembatan yang menghubungkan kemiskinan dengan mimpi”, begitu katamu parau. Sesaat itu seperti membisikan keluh bahwa hidup bukan hanya soal jembatan besi selebar satu meter atau warnet yang menjejalkan dunia di sepotong usb.

Lalu kau Pergi.

Atau Pulang lebih tepatnya.

Tunai.

Dan aku melihat jendela awan dari tepian jakarta, seperti kotak-kotak papan catur usang. Tidak hitam benar dan bukan putih seperti namanya. Kadang kuning kadang hijau kadang merah. Disitu bayanganmu yang hadir seperti lampu lalu lintas. Dan orang-orang tergesa menatapnya. Tak pernah yakin bisa bersabar. Hidup makin percaya pada siapa yang kuat, siapa yang cepat.


Penanggal

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.