MAE


(Lagu Rannisakustik untuk peringatan Hari Buruh 2012)

Mae
Apa yang mae inginkan
Kerja untuk dapat uang
melayani bapak yang renta, ibu yang pembantu
bayar sekolah adik-adik

apa yang mae kerjakan
jadi buruh pabrik di kota
sampai saat phk tiba, ribuan buruh ditipu daya
cari, cari kerja lagi

Ah

Lalu mae jadi te ka we
Jadi buruh di negeri jauh
Serigala mengoyak luka, isi perut dan kehormatan
Pulang dalam kantong mati

Oh

Apa yang mae tinggalkan
Doa, murka, dan putus asa
Menyusul bapak yang tiada, ibu yang pilu
Adik-adik sudah di jalanan

Gelas yang Kosong dan Hampir Retak: Aktivis dan Perubahan Sosial


Gerakan Sosial khususnya gerakan perempuan di Indonesia bisa disebut sedang mengalami kelesuan perjuangan. Lesunya gerakan perempuan tentu sangat mengkhawatirkan mengingat pemerintah yang semakin tidak berpihak pada warga negaranya, tidak melindungi rakyat dari penghisapan korporasi global, dan sibuk dengan blunder-blunder politik ketimbang menjadi abdi masyarakat yang diberi mandat.
Beberapa persoalan yang dialami gerakan perempuan dan secara khusus gerakan anti kekerasan terhadap perempuan yaitu:
belum ditemukannya “musuh” bersama sebagai sasaran perlawanan gerakan sosial pasca rezim soeharto.
Gaya perjuangan yang kasat mata menjadi ciri khas perlawanan masyarakat indonesia. Heroisme ala prajurit sejak jaman perang diwariskan pada gerakan sosial. Dengan kaum laki-laki sebagai garda depan perjuangan, aktivisme yang berdarah-darah dan revolusioner menjadi syarat kerja sosial bisa disebut aktivisme atau perlawanan. Apalagi pola pembangunan orde baru yang mengedepankan stabilitas (baca:pasif) dan kemajuan ekonomi, membuat segala sesuatu yang bersifat pemeliharaan, penjagaan, dan kesadaran menjadi inferior dibandingkan dengan pembangunan dan penghancuran. Yang menghambat pembangunan adalah subversif. Lambat laun orang tidak akrab dengan apa yang disebut Proses.
Padahal, jika dilihat sekarang, rezim soeharto bisa dibilang hanyalah pembukaan rezim yang tak kalah brutalnya: rezim pasar. Kekuatan besar dari luar wilayah nation indonesia yang secara sistematis telah membuat blue print perluasan wilayah pemasaran dengan segala cara termasuk ketidakmasuk-akalan pertimbangan pemenuhan kebutuhan manusia.
rezim pasar menempatkan rakyat indonesia sebagai konsumen semata.
Dengan standar kemajuan yang dicapai di era orde baru kita kadung menganggap percepatan dan kuantitas menjadi standar keberhasilan untuk menjadi manusia. Sejak kecil kita lebih banyak diajarkan untuk pertambahan dan perkalian dibanding pengurangan dan pembagian. Kualitas hidup seseorang diukur dari banyaknya uang yang bisa dihasilkannya. Antrian panjang pelamar pekerjaan termasuk PNS (pegawai Negeri Sipil) mengindikasikan betapa kita adalah para abdi pasar yang tak kuasa mengendalikan kebudayaan pasar yang hakiki sebagai warga negara. Menyingkirkan aktivitas manusia lain semisal ulama, seniman, penulis, pemusik, bahkan petani dan menempatkannya sebagai bukan pekerjaan.
Di catatan sejarah lain, kesepakatan kekuasaan antara soeharto dan beberapa korporasi menempatkan indonesia sebagai barang gadai yang niscaya lepas dari pemiliknya: rakyat. Satu-satu sumber kekayaan di tanah indonesia dibentengi dari masyarakatnya. Hari ini kita sedang membayar hutang yang tak perlu yang jumlahnya amat besar, cicilan yang entah akhirnya setelah kita menerima “pinjaman” dan bantuan luar negeri yang juga tak bisa dinikmati segenap rakyat indonesia. Bendungan-bendungan, vitamin, pupuk, gandum, dan kemewahan masyarakat kota adalah rongsokan yang dulu kita peroleh dengan menukarkan dengan sesuatu yang berharga punya kita: Martabat.
Gerakan sosial yang terpisah pisah dan ketergantungan pada donor
Banyaknya peralihan orientasi NGO yang seolah terkesan menjadi project oriented dan menjadikan perhatian terhadap sustainibility gerakan maupun lembaga menjadi terabaikan. Ini semakin mengkhawatirkan ketika support negara yang masih minim justru muncul kecenderungan lembaga dana internasional beranjak akan meninggalkan Indonesia sebagai dampak dari politik pencitraan pemerintah saat ini yang menempatkan Indonesia dalam kategori ”menengah” sehingga tidak lagi menjadi prioritas lembaga donor internasional.
***
Beberapa hal diatas membuat gerakan aktivis di indonesia menjadi dangkal dan karikatif. Parameter aktivisme yang patriarkhi dan kehilangan kemampuan untuk menimbang segala urusan dengan masuk akal menjadikan gerakan sosial menjadi terpecah, labil, dan genit. Disorientasi.
Politik dan doktrin pencitraan yang dilakukan oleh pemerintah dan media massa (yang juga lapak dagang itu) menjadikan aktivisme sebagai produk budaya yang maya ketimbang menjadi peran manusia sebagai makhluk sosial dan khalifah. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) menjadi lembaga yang paling tidak swadaya. Bahkan saat kita menerjemahkannya menjadi NGO (Non Government Organization) pun kita tak kuasa menahan godaan terjerumus politik panggung (atau panggung politik) pemerintah (baca: jakarta) yang menor dan tak tahu malu. Menjadi pegawai LSM/NGO bisa jadi batu loncatan untuk jadi politikus. Polinya tikus.
Dalam konteks gerakan penghapusan kekerasan pada perempuan, kita menemukan kenyataan bahwa kemajuan teknologi informasi dan demokratisasi tidak dengan serta merta meminimalisir kekerasan yang dialami perempuan di indonesia. Media (massa) yang maskulin dan misoginis, budaya yang tak henti ereksi patriarkhis, pemerintah yang tidak sensitif, dan pasar yang memanjakan angan telah menahan nasib perempuan pada posisi serba korban; korban tradisi, korban penganiayaan, korban politik, dan korban iklan.
Kekerasan yang dialami perempuan, baik di saat ia kecil, masa pacaran maupun dalam rumah tangga membuat partisipasi dan emansipasi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan seperti bukan apa-apa. Semua kemajuan perempuan saat menjadi bagian kehidupan sosial selalu diikuti dengan kekerasan yang menimpanya, baik fisik, mental, seksual, dan ekonomi.

Gelas yang Kosong dan Retak


Bagian yang memprihatinkan bagi saya adalah betapa media (massa) ikut membesarkan dan mereproduksi ketidakadilan dan dehumanisasi itu. Bad news is a good news. Koran dan stasiun TV penuh dengan bias dan eksploitasi, iklan produk dan lawakan politik, dan perempuan adalah aset sekaligus konsumennya.
Di tingkat individu, setiap kita adalah korban sekaligus pelaku kekerasan. Urusan di rumah, pacaran, bahkan institusi pendidikan menjadi arena kekerasan. Semua melahirkan pengalaman traumatik dan kesebalan. Alih-alih kita mengatasi kondisi yang menggerogoti kepekaan sebagai manusia, kita malah melarikan diri pada keriuhan teknologi, ilusi pengembangan mental yang instant, dan amuk di stadion sepak bola, kampanye, dan antrian blackberry murah.
Secara komunal, kita asing satu sama lain dengan tetangga. Memilih tidak terlibat menyaksikan kekerasan yang terjadi di lingkungan sambil terus bergunjing. Anak-anak terlalu sibuk bersekolah di tempat yang jauh sehingga tak punya waktu untuk Belajar. Sementara orang tuanya asyik mengejar pendapatan untuk membayar kredit ini-itu. Tak ada gotong royong, tak ada zakat bagi tetangga, tak ada tegur sapa jaga.
Pekerjaan sering dijadikan alasan orang untuk mengurangi interaksi antar Manusia. Transaksi ekonomi dan kekuasaan terjadi di tempat kerja, di ruang publik, di pos pelayanan pemerintah, di lembaga pendidikan, dan di tempat ibadah. Profesionalisme berarti “saya lakukan maka saya dibayar”. Konon kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga baik terhadap istri maupun anak seringkali diakibatkan oleh tekanan ekonomi. Uang kita tidak sebanyak punya tetangga.
Dimana negara dalam kondisi seperti ini? Pemerintah menjelma menjadi upas yang melayani pemilik modal sembari menyiksa rakyatnya sendiri. Tentu saja lengkap dengan lagak yang konyol dan tak bermalu. Penyiksaan yang dialami tenaga kerja indonesia (TKI) di luar negeri dianggap wajar sebagai konsekuensi warga negara yang mencari uang. Negara mengontrol rumah tangga dengan peraturan pernikahan namun tidak menolong korban yang dianiaya dalam rumah. Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UUPKDRT) yang didesakan para aktivis menjadi prestasi besar pemerintah namun tidak cukup sosialisasi ke masyarakat.
Dan aktivis dan LSM –para ronin yang pernah begitu dipercaya—merayakan persoalan-persoalan kekerasan dan keadilan di berbagai tingkat sosial itu dengan proyek-proyek sosial, pelatihan-pelatihan yang tak berkelanjutan, retorika basi yang sudah tak dimaknai lagi, dan memelas termehek-mehek karna tak punya gaji sebesar anggota dpr.
Di tengah himpitan persoalan itu memang sulit bagi aktivis sosial untuk berjuang. LSM/NGO memang sudah lebih diterima masyarakat sebagai agen perubahan, sebagai sebuah profesi juga, namun di sisi lain pelembagaan aktivisme ini juga memiliki konsekuensi lain. Kontrol negara dan donor –seringkali dananya didapat dari eksploitasi alam dan manusia di belahan bumi lain— menguji integritas para aktivis dan masyarakatnya dalam menetapkan standar mencapai tujuan. LSM/NGO berlomba berdekat-dekat dengan lembaga donor. Regenerasi pejuang sosial tersendat karena budaya akses perseorangan atas sumber dana, data, dan jaringan kerja.
Tekanan ekonomi yang dialami para aktivis sering dijadikan alasan untuk hengkang dari aktivisme. Satu-satu ikatan sosial terlepas dari simpul ideologi. Dengan sistem perekrutan pekerja LSM/NGO yang kental dengan nepotisme, aktivis sering dikelompokan dalam pengangguran terselubung; tidak profesional, ajang lulusan perguruan tinggi mengisi waktu sambil menunggu dibukanya pendaftaran PNS. Banyak para aktivis yang jatuh kecewa ketika regenerasi yang disiapkannya berantakan karena sang junior hengkang melamar pekerjaan di tempat lain. Belum lagi soal ideologisasi dan transfer pengetahuan yang sulit karena bersaing dengan berbagai sajian di media yang lebih menarik dan membuai.
Ketidakamanan perempuan juga terjadi di wilayah adat istiadat lokal. Persekutuan pembangunan berorientasi ekonomi dengan seni daerah dan media melahirkan pariwisata yang justru menjauhkan nilai-nilai dan seni lokal dengan rakyat sebagai pemiliknya. Pemasungan kearifan lokal menjadikan falsafah manusia berubah menjadi artefak mati yang eksotik. Kekerasan yang dialami perempuan di beberapa suku di papua misalnya, lebih sering juga disebabkan lemahnya perlindungan adat terhadap mereka karena mereka memilih melaksanakan pernikahan di luar tata cara adat yang tak mereka kenali lagi.
***
Dalam pandangan saya ada 4 wilayah pemahaman isu oleh masyarakat terkait persoalan-persoalan perempuan di Indonesia.
1. isu emansipasi dan partisipasi sosial perempuan di masyarakat. Ini isu umum yang dimanifestasikan melalui ketokohan RA Kartini, Dewi Sartika, dan Tjut Nyak Dien. Perempuan indonesia didorong untuk ambil bagian dalam posisi dan profesi sama dengan laki-laki.
2. isu kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan yang dialami TKW dan kekerasan dalam rumah tangga adalah isu pokok yang paling sering diangkat.
3. isu ketidakadilan berbasis gender dalam berbagai sektor dan nilai budaya. Penafsiran ajaran agama yang melahirkan ketidakadilan menjadi isu paling umum di ranah pengetahuan masyarakat. Tema lain adalah kekerasan yang dilahirkan oleh adat istiadat etnis terutama dalam soal pernikahan.
4. isu dekonstruksi dan kritik atas maskulinitas dan pelibatan laki-laki dalam mewujudkan kehidupan yang berkeadilan gender. Isu pelibatan laki-laki dalam menghapus kekerasan berbasis gender adalah isu bungsu, baru dikenal umum, yang berkembang di tahun 2000-an.
Secara berurutan pengetahuan akan 4 wilayah isu itu sering menjadi wacana yang tiada hentinya. Saat sektor privat, komunal, profesi, dan birokrasi negara sudah sulit dipercaya melahirkan perubahan ke arah yang lebih adil terhadap perempuan, maka aktivisme dengan pikiran-pikiran kritisnya jadi pilihan paling baik. Tentu saja dengan persoalan-persoalan yang melilit pada aktivis dan LSM/NGO perlu strategi yang lebih terarah dan intensif dalam menyuarakan dan melakukan perubahan sosial.
Penggalangan solidaritas sosial, pengelolaan dana mandiri oleh dan untuk aktivis, peningkatan wawasan dan skill, serta keterbukaan wacana dan kritik di kalangan LSM/NGO bisa menjadi beberapa hal yang pantas untuk diperjuangkan sebagai peningkatan kekuatan internal gerakan sosial. Di tingkat individu aktivis, perlu meningkatkan minat belajar; merumuskan kembali hakikat dan arah gerakan sosial.

Perluasan Pelibatan masyarakat pada gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dapat memberi dukungan pada upaya penghapusan kekerasan dan dukungan pada aktivis dan aktivisme. Perluasan isu ini dapat dilakukan dengan TERUS MENERUS melakukan sosialisasi dan kampanye dengan berbagai bentuk media populer, baik yang bersasaran personal, komunal, segmental, nasional, dan internasional.

E


Ode buat Endik
Cici kelinci putih mengingat jalan setapak di pinggir sungai itu sebagai jalan pulang. Sudah dua musim ia bermain jauh. Banyak yang ia temui di pengembaraan berdebu dan berangin ganas itu. Banyak teman baru didapat, banyak permainan digelar. Kini saatnya pulang.
Cici kelinci putih melepas dahaga di tepi sungai besar. Seekor kumbang menghampirinya. “Cuaca tak menentu, sudah tak bisa kita rasakan lagi kemana awan-awan itu akan bergerak”, keluh sang kumbang. “Apakah menurutmu sungai ini pun akan mengalir ke arah sebaliknya?”
Cici kelinci putih tersenyum. Ia teringat cerita musa dan hujan api.
Saat bencana datang kita mengira-ngira apakah itu cobaan atau hukuman
Atau wujud kasih sayang
Atau bukan apa-apa; sepeti seekor sapi mengibas ekor mengusir lalat yang hinggap di punggungnya.

Hidup adalah menafsir detak jantung tuhan.
Saat hujan menarik air sungai ke pucuk bambu, Cici kelinci putih bersampan diatas drum.
Saat angin meruntuhkan gunung, ia menerbangkan layang-layang ke awan.
Saat panas matahari membakar ladang tebu, dipanggangnya ketela.
Saat gempa membalik bumi, ia bernyanyi kidung daud yang indah.
Hidup adalah menafsir anugrah.

Langit beranjak teduh di tepi sungai itu. Cici kelinci putih enggan pulang. Banyak yang mesti dikerjakan, banyak yang belum dirampungkan.
Namun ia musti pulang.

Y


Aku melihat tepian jakarta dari jendela awan, seperti menatap papan catur usang. Yang mati dikorbankan bertumpuk gelimpang di pinggir arena. Pernah ada dan tak sungguh-sungguh hilang. Tubuh-tubuh berbalut ampas kopi dan abu rokok menunggu giliran dimainkan lagi jika raja baru bertahta. Untuk disingkirkan lagi.

Sama seperti anak-anakmu, pertiwi, berjejal di kereta ekonomi menuju lampu bernama kota. Tak pernah yakin bisa bertahan, tak pernah percaya tanah cukup ramah. Hidup hanya bersandarkan pada siapa tahu.

“Di sini akan dibangun jembatan yang menghubungkan kemiskinan dengan mimpi”, begitu katamu parau. Sesaat itu seperti membisikan keluh bahwa hidup bukan hanya soal jembatan besi selebar satu meter atau warnet yang menjejalkan dunia di sepotong usb.

Lalu kau Pergi.

Atau Pulang lebih tepatnya.

Tunai.

Dan aku melihat jendela awan dari tepian jakarta, seperti kotak-kotak papan catur usang. Tidak hitam benar dan bukan putih seperti namanya. Kadang kuning kadang hijau kadang merah. Disitu bayanganmu yang hadir seperti lampu lalu lintas. Dan orang-orang tergesa menatapnya. Tak pernah yakin bisa bersabar. Hidup makin percaya pada siapa yang kuat, siapa yang cepat.

HABIS GELAP TERBITLAH AIR MATA


Sekuntum kembang, semerbak oh wanginya, main-main dalam angin,
Menantang matahari, gemerlap cahayanya…
Jutaan perempuan anak-anak kartini bergerak di depan pabrik-pabrik, mal-mal, pasar, medan pertempuran, mesjid-gereja, tempat spa, sekolah, barak pengungsian,…
Bunyi derak roda-roda peradaban menggantikan degup jantung yang hangat.

Namaku kartini. Dan aku tidak ingin jadi kartini.
“Aku rasa tidak ada hal yang lebih menggelikan dan bodoh dari pada orang yang membiarkan dirinya dihormati hanya karena dia keturunan bangsawan”.
Aku adalah jutaan perempuan yang berdesakan masuk pabrik pagi-pagi dan membanting tulang menggerakan mesin-mesin penghasil makanan, susu, dan vitamin bagi tuan-tuan.
Saat sore tiba, aku adalah jutaan perempuan yang bergegas pulang untuk sekedar hidup. Sekedar hidup.

Namaku Kartini. Aku seorang bangsawan. Tapi tak lebih percaya diri di depanmu, stella.
Apa yang kutulis di surat kabar hanya omong kosong saja…aku tidak diizinkan menyinggung isu-isu penting…Ayah tidak suka bila anaknya menjadi buah bibir orang banyak.
Aku kartini yang membesarkan anak-anakku dengan cinta, nutrisi, dan setumpuk jadwal les.

Do re mi aku bernyanyi, fa sol mi do kupeluk erat bayangan ibu

Hari ini ayah tidak pulang lagi. Aku merindukannya. Tidak aku tidak merindukannya. Aku takut.
Namaku Kartini, gadis kecil yang diajarkan mencintai bunga-bunga, boneka, dan berdandan.
Tapi kenapa tuan paksa aku untuk dipangku dan memegang selangkangan tuan.

Bunga jatuh dari genggaman
Gadis kecil kehabisan tangis
Rahasia membusuk dalam darah
Tiada daya melepas diri
Tipu daya menjerat erat

Mohon ampun, ibu. Surga di kakimu terlalu berharga bagiku. Aku hanya ingin didengar dan dipercaya. Cukuplah bagiku.

Aku cantik maka aku perempuan, aku perempuan maka aku cantik
Aku tersiksa karna aku perempuan, aku perempuan maka akau tersiksa

Namaku Kartini. Andai saja aku dilahirkan di virginia atau roma.
Kemanapun aku pergi, tuanlah yang mengiringi. Aku kartini yang dipajang di etalase-etalase mal, kartini yang berjalan dengan tegak.
Aku kartini- yang mewarisi hasrat merdeka.
Aku kartini- yang mewarisi kesucian maria.
Aku kartini- yang menggerakan jutaan tentara menumpas angkara.
Aku kartini- yang menulis surat cinta untukmu. Hanya untukmu.

Hari itu dia mendatangi kamarku dan berkata,”kau yang begitu ringkih dan pualam, mendekatlah padaku”.
Dengus nafas memburu nafsu. Jantung membeku dalam takut.
Aku ingat shalat berjamaah pertamaku. Di mesjid kampong, di deretan belakang.

Seorang perempuan adalah pelengkap bagi laki-laki. Penyejuk saat panas dunia mendera kepala, pelepas dahaga saat kita haus di padang tandus, pengantar tidur ketika tubuh letih berbaring.
Para dewa telah mengutusmu menjadi pendampingku, sayang. Penjaga bathinku, tulang rusuk yang hilang telah kembali.
Telah jadi takdir bahwa laki-laki berkuasa dan perempuan adalah bunga yang senantiasa harus dijaga.

Suara lonceng gereja terdengar sayup mengiris angin. Sayup-sayup.

Jika seorang istri menolak melayani suaminya di suatu malam, maka tak akan datang malaikat ke rumah itu. Jadi jika engkau tak bisa melayaniku, wahai istriku, harus ada solusi bagi persoalanku.

Jika seorang istri
menolak melayani suaminya di suatu malam,
maka tak akan dating
malaikat ke rumah itu.
Jadi jika engkau
tak bisa melayaniku,
wahai istriku,
harus ada solusi bagi persoalanku.

Namaku Kartini, gadis kecil yang diajarkan mencintai bunga-bunga, boneka, dan berdandan.
Tapi kenapa tuan paksa aku untuk dipangku dan memegang selangkangan tuan.
Aku kartini yang mewarisi- hasrat merdeka.
Aku kartini yang mewarisi- kesucian maria.

Diciptakan alam pria dan wanita, dua makhluk dalam asuhan dewata, ditakdirkan bahwa pria berkuasa, adapun wanita lemah lembut manja..

Saat langkah sampai di tebing berbatu
Tak ada lagi yang kau tuju
Pada ibu kau mengadu
Ketika hati letih dan sepi
Sayap luka dan perih
Ibu tempatmu kembali
Ibu saat ada dan tak ada
Tetaplah mata air
Asal doa terpancar dan
Mengaliri nadimu
Matahari bagi bumi suburmu
Saat kenangan adalah pisau yang menikam
Saat cinta terkoyak dusta
Ibu tempat berbagi cerita
Sayap luka dan perih: ibu tempatmu kembali

Namaku Kartini. Dan kau anakku, akan mewarisi kecantikan dan kepasrahanku sebagai seorang perempuan di depan dunia. Ikhlaskanlah dirimu agar jiwa tenang. Harga diri sebagai perempuan itu penting. Jangan kemerdekaan dan cita-citamu hancur karna mimpi-mimpi dan kebimbangan.
Kubur selendangmu,
bakar bonekamu.
Biarkan puisimu ditelan lautan.

Wajah itu mendekat lagi menyusuri wajahku
Tangan iblis yang merayap laknat
Aku ingat doa pertama yang diajarkan ibu

Maka bunuhlah laki-laki yang menyiksamu. Nyatakan ini sebagai sikap bahwa kamu tidak ingin dibunuh. Ayo lawanlah suami atau pacarmu, bahkan abang dan ayahmu. Jangan menyerah. Dan jika kau lelah, biarkan aku memelukmu

Seharian aku bekerja bagi kalian. Aku adalah jutaan laki-laki yang berdesakan masuk pabrik pagi-pagi dan membanting tulang menggerakan mesin-mesin penghasil makanan, susu, dan vitamin bagi keluarga.
Saat sore tiba, aku adalah jutaan impian yang bergegas pulang untuk sekedar hidup.
Hidangkanlah teh hangat untukku. Siapkanlah air panas untuk aku berendam dalam cintamu. Mari.

Gemuruh nurani sehening gumpalan salju
Rahasia membusuk dalam darah
Jeritan teggelam dalam alunan puji-pujian

Hari ini ayah tidak pulang lagi. Aku merindukannya. Tidak aku tidak merindukannya. Aku takut.
Namaku Kartini, gadis kecil yang diajarkan mencintai bunga-bunga, boneka, dan berdandan.
Kukirimkan surat-surat ini padamu
di masa silam dan masa depan.
Hari ini surga berpaling dariku
dan aku tak ingat jalan pulang.

***

soal dagang, bukan film


Saat bea masuk film asing (hollywood) dinaikan pemerintah hingga pihak sodagar film menghentikan penjualannya di Indonesia, beragam tanggapan saya temukan lewat koran, tv, dan facebook.
Yang menarik dari tanggapan-tanggapan itu bagi saya adalah banyak orang yang lantas memprihatinkan, mencemaskan bahwa mereka lantas akan disuguhi film-film Indonesia yang buruk. Berbagai judul film yang aneh dan lucu dikedepankan dengan nada menghina. Saya tidak tahu apa yang diprihatinkan; kualitas atau judul film-film Indonesia itu? Apakah mereka yang prihatin itu menonton sudah menonton film-film yang disebutkan itu?
Lalu pertanyaan berikutnya; apakah sebetulnya persoalan film Indonesia sekarang ini? Produksi? Distribusi? Atau di tingkat konsumsi penonton?
Jika banyak orang mentertawakan logika cerita di film Indonesia, apakah memang sungguh film adalah soal (logika) cerita?
Tidakah selama ini, saat film holywood disilakan diputar di bioskop dan tv Indonesia, ikhwal yang paling esensial dari film yaitu frame size dan angle tak jua dimanfaatkan oleh para pembuat film (apalagi sinetron) dengan baik. Penempatan kamera dan besaran obyek gambar dilakukan dengan kekacauan yang gilang gemilang. Padahal sistem perseptual itu sudah ditunjukan banyak oleh industri film holywood di rentang waktu yang panjang dalam sejarah film kita. Tak juga kita belajar.
Barangkali bukan soal cerita (begitu mudahnya Benigni di Life is Beautiful berpetak umpet dengan derita perang), melainkan soal dimana kita meletakan kamera (-kamera) saat merekam percakapan dua orang tokoh. Barangkali bukan soal logika, apalagi judul.
Penasaran? Ketik KACAU spasi FILM, kirim ke 17-08-1945.

NENEK SUDAH TUA, GIGINYA TINGGAL DUA


“Nenek sudah tua, giginya tinggal dua”
Baru-baru ini saya menonton “The Curious Case of Benyamin Buttons”. Saat menonton saya disergap sepi -keueung- menyaksikan bagaimana tragisnya manusia menempuh hidup dengan beragam cara dan jalan, tapi tetap saja arahnya menuju tua. Dan mati.
Di hari pertama kamu lahir, ibu memelukmu. Bapak yang membuangmu ke arena yang berdebu.
Saat situasi berat datang, hati patah, siapa yang kau datangi untuk mengadu dan menyedu? Perempuan. Entah ia istrimu, sister, ibumu, nenek, seseorang.
Ketika tulang-tulangmu tak lagi kuat menanggung dunia dan nafas makin menghembus ke tanah, anak-aak perempuanmu yang menuntunmu, membaringkanmu agar kepala sejajar dengan tanah, agar siap pulang.
Bahkan saat ini pun kita selalu berharap -seperti Beatles bertanya ‘ “When I get older loosing my hair, many years from now, will you still sending me valentine, birthday greeting, bottle of wine?”
Jangan habiskan cinta, sampai maut menyapa.
- Entah kenapa bukan kakek yang sudah tua, dan giginya tinggal dua. Mungkin kakek mati muda.
Selamat hari ibu. Selamat jalan, nenek.
Yogjakarta, 22 Desember 2010

DUA TANGGAPAN ATAS CENGKOK BATU


Berikut ini adalah dua tanggapan atas tulisan saya Keroncong dan Saya: Cengkok Batu
Dua komen ini sengaja saya tampilkan sebagai tulisan baru di blog ini karena menarik buat saya. Semoga juga buat Anda.

IMAM D KAMUS
Desember 25, 2008 pukul 10:54 am
Riwayat keroncong bukan hanya meliputi musiknya (tekstual) tetapi lebih dari itu (dan inheren) merupakan riwayat perjalanan orang, orang, rombongan dan masyarakat pendukungnya (kontekstual). semula saya berkeyakinan bahwa bentuk dan struktur musik keroncong-lah yang paling penting untuk mengidentifikasi apa itu keroncong kelahiran, pertumbuhan dan perkembangannya. Tetapi rupanya ada hal lain yang tidak kurang pentingnya yaitu bagaimana pendukung budaya musik keroncong memaknai prilaku musikal dan budayanya.
keroncong tetap punya daya hidup yang luar biasa. namun resistensinya bisa membuat keroncong tidak populer di kalangan ‘anak muda’. bagaimana tidak, misalnya lagu2 yang muncul merupakan lagu2 lama, sedangkan ‘anak muda’ ssekarang bahkan tidak memahami teks lagu2 tersebut. padahal kekuatan keroncong sebagai musik vokal (resitatif akompanyemen) berada pada syairnya. lalu bagaimana dengan bentuk musiknya?
Musik keroncong mengadopsi lagu2 populer awal abad ke-20 menjadi bentuk langgam keroncong, lalu mengutip (meminjam?) repertoar yang dipakai Komedie Stambul menjadi bentuk Stambul Keroncong. lalu muncul langgam Jawa, langgam Sunda, Makasar, dll.
…(Bersambung…)

OLSY,
Oktober 15, 2010 pukul 2:32 am
Lama sekali saya menunggu implementasi dari kata “bersambung…” yang diapit oleh tanda kurung pada ujung komentar Imam D Kamus. Dua tahun.

Tapi baiklah, ketimbang menunggu tanpa pemberhentian, saya ikut ngobrol aja tentang keroncong.

Bagi saya, keroncong bukan sekadar peristiwa musikal. Bila berbicara keroncong dalam pengertian yang luas, kita akan bertemu dengan indeks-indeks kebudayaan yang serupa dengan Jazz yang dari padanya lahirlah karya-karya kejeniusan berupa rock, blues dan juga swing sebagai anak sulung jazz.Oleh karena itu, keroncong harus dipahamai sebagai sebuah peristiwa budaya yang memanfaatkan segala kemungkinan dan segala keluasan musik. Tanpa itu kita hanya akan melihat keroncong sebagai sesuatu yang diam-diam dari kejauhan mengintip kejayaan musik-musik yang dikembangkan oleh kerakusan manajemen pemasaran televisi.

Urusan pragmatisme-praksis-fungsionalitas, tentu Ramses dan juga Imam D. Kamus punya kewenangan yang lebih luas untuk berbicara mengenai masalah rumah tangga keroncong; sistem penandadan irama, karakter instrumen, transformasi dan interkasi keroncong dengan jenis-jenis musik dan juga kebegajulan panggungnya, dan juga keroncong itu sendiri sebagai realitas suara bernada.

Tapi saya melihat pula ada hal lain dari keroncong yang tidak melulu masalah musik, representasi musik dan kemudian masyarakat musiknya. Keroncong dari “takdir” kemunculannya tampaknya disiapkan menjadi sebuah musik yang mampu berdialog dengan musik lain sehingga sebagai sebuah entitas kebudayaan, keroncong akan selalu ada meski manajemen pemasaran dan manajemen isu neo-lib barangkala hanya menempatkan keroncong sebagai daftar tunggu di UNESCI untuk didaulat sebagai warisan dunia, menyusul batik yang telah diakui tapi malah semakin menguatkan para pembelanja-pembelanja kelas kakap (dan tetap mengabaikan pebatik-pebatik tulen di pelosok-pelosok Jogja yang tak dihiraukan lensa kamera televisi).

Keroncong pun adalah persoalan serius tentang tafsir sejarah atas suatu kebudayaan, implementasi atas tafsir sejarah tersebut dan kesadaran musikal suatu masyarakat. Bila kita melihat kesadaran musikal suatu masyarakat lewat keroncong, saya menunjukkan Sinten Remen yang tidak hanya berhenti pada Sinten Remen. Namun, Djaduk lewat proyek lain, Lagu Natal (2006) menantang kemampuan musik gregorian (yang telah “dipopkan”) dalam memahami bahasa yang dibunyikan oleh cuk; cuk sebagai cuk.
Tuhan Sumber Gembiraku adalah lagu Katolik yang kerap menjadi bagian perayaan ekaristi. Artinya, perayaan ekaristi yang pada dasarnya adalah suatu sinkritisme Eropa terhadap tafsir atas ajaran Yesus yang Hibrani, didialogkan dengan cuk yang pesisir, egaliter, dan nusantara meski tetap berwajah Barat. Cuk ada dalam persitiwa itu, suatu peristiwa yang saat ini diharapkan kehadirannya tapi tak diakui keberadaannya; dialog atas perbedaan yang bukan soal kalah-menang. Sebagai sebuah praktek dialog, cuk pada lagu tersebut tetap berperilaku sebagai cuk sebagaimana pada keroncong.

Bagi saya pun, memperkenalkan keroncong pun tidak harus, meski sebaiknya memang iya, lewat musik keroncong itu sendiri secara utuh. Djaduk dengan lagu “Tuhan Sumber Gembiraku” telah menunjukkan cara lain memperkenalkan keroncong. Lalu, seperti yang telah disebut Ramses, hal pokok yang dapat digunakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya juga mengenai kemampuan keroncong berdialog dengan dunianya. Bondan Prakoso-Fade to Black, apapun hasilnya dan dalam kepentingan apa dilakukan, telah mencobanya.

Maka yang perlu dipikirkan, menurut saya adalah, perumusan bahasa yang lebih populer terhadap penyusunan representasi keroncong sebagai obyek historiografi dan juga representasi keroncong dalam etnomusikologi. Terlepas apakah dia kemudian diakui UNESCO apa kagak, gak jadi soal. Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong.

Dan, yang perlu dihindarkan, jangan biarkan keroncong seperti busana dan bank yang ternyata di Indonesia telah punya agama… :D

Wajah dan wajah


Saat sma, sebagai murid yang tidak rajin, saya sering menggambari buku-buku tulis saya dengan gambar wajah; berbagai wajah. Saya tidak ingat sejak kapan saya gemar menggambar wajah. Sambil menggambar wajah-wajah imajiner itu saya seringkali membayangkan dan mereka-reka karakter yang terpancar di wajah yang saya gambar. Saya tidak mahir menggambar dengan model kecuali saya terus menerus menirunya sampai “mirip”. Jadi sampai sekarang ada lima wajah yang saya hapal hingga saya bisa menggambarnya mirip yaitu wajah 4 anggota beatles dan wajah saya sendiri hehe..
Kegandrungan menggambar wajah itu kemudian berlanjut pada kesukaan membuat topeng. Membuat topeng lebih menantang daripada menggambar wajah karena dimensinya yang lebih banyak. Besaran dan komposisi organ muka menarik perhatian saya; sama menariknya ketika saya menggambari wajah para aktor sebelum mereka pentas.

Saya bukan “pembaca wajah” yang pandai menebak karakter orang dengan cara melihat mukanya, namun saat membuat topeng juga saya mengandaikan pembawaan yang mungkin dimiliki sang wajah/topeng itu. Tak jarang juga saya membayangkan suatu karakter dulu baru kemudian membuat wajah yang bisa mencerminkan karakternya itu.
Lalu bagaimana hasilnya sekarang? Belum. Saya belum jago. Masih banyak yang perlu saya pelajari tentang wajah manusia, terutama jika saya melihat wajah-wajah para tokoh dan pejabat di tivi.

Laporan dari Wasior, sabtu 9 Oktober 2010


Sabtu (9/10/2010)

Pada hari ke 4 setelah bencana (8/10), mulai terlihat alat-alat berat diturunkan ke jalan-jalan untuk membersihkan lumpur serta batu-batu dan kayu log. Jalur komunikasi menggunakan telepon selular telah normal kembali. Masyarakat yang bertahan di Wasior dan belum mendapatkan bantuan terpaksa makan seadanya, sagu, umbi-umbian, daun-daunan, dengan lauk daging lao lao (sejenis kanguru pohon) dan soa soa (sejenis kadal) yang dibakar. Masyarakat tidak berani mengambil ikan di laut karena berpikir bahwa banyak mayat hanyut sampai ke laut yang kemudian dimakan oleh ikan-ikan.

Posko hanya terlihat berdiri di Wasior Kampung , bantuan belum bisa didistribusi dengan baik, karena tidak ada kendaraan dan jalan dipenuhi lumpur serta batang pohon dan batu-batu besar. Masyarakat yang ada di kampung-kampung lain harus berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter untuk mendapatkan bantuan makanan dan pakaian. Yang dapat mencapai posko induk dan telah mendapatkan bantuan berupa beras dan mie instan, tiap hari makan mie instan, termasuk anak-anak balita, sehingga dikawatirkan akan mengalami penurunan kondisi tubuh. Banyak warga yang berjalan jauh, namun harus kembali pulang dengan tangan kosong karena stok bantuan telah habis.

Menurut kawan di posko Wasior, mulai terlihat setidaknya ada 15 kampung yang menjadi korban banjir bandang, yaitu Kampung Anggatu, Rasyei, Isui, Isei, Kubiari, Wondiwoi, Wanopi, Iriati, Manggurai, Miei, Wasior kampung, Wasior Kota, Sanduwai, Warwai, dan Rado. Yang mengalami kerusakan paling parah adalah Wasior Kota, Kampung Sanduwai, dan Kampung Rado. Di tiga tempat ini, terutama Rado, korban meninggal dan luka parah paling banyak ditemukan. Di kampung Rado hampir seluruh rumah luluh lantak dan beberapa menyisakan pondasinya saja. Sedangkan di 8 kampung, korban belum jelas terdata karena lokasinya masih sulit dijangkau.

Halaman Berikutnya »


Penanggal

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.