Jendela Kartini: Perjalanan Rembang


Jendela kartini

Jendela kartini besar sekali.

“disinilah dulu ibu kartini mengajar murid-muridnya membaca-tulis, membatik, and lain-lain”.

Saya berdiri di bawah jendela besar itu, mengagumi besar betul itu jendela, kemudian berfoto-gaya. Di dalam ruangan saya mendengar penjelasan pemandu yang sopan itu. (Dia tidak tahu kalo saya bukan salah satu anggota rombongan pejabat yang sedang berkunjung itu, Cuma penyelinap). Terasa di ruangan ini ada perawatan yang cukup baik terhadap benda-benda peninggalan kartini. Di ruang pamer pun saya melihat beberapa benda, sebagian diantaranya dikurung kaca; lukisan-lukisan karya kartini, buku-buku, kamar mandinya, alat-alat membatik, furnitur, sampai kliping-kliping mengenai beliau.

Sampai kemudian saya melewati sebuah pintu kecil yang tampaknya jarang dilewati, menemukan lima ruangan di belakang museum itu. Dibatasai oleh pagar belakang ruangan-ruangan itu berantakan dan sama sekali tak terawat.

“disnilah dulu para selir ditempatkan, dikunjungi secara berkala dan bergilir oleh suaminya ibu kartini”.

Saya berdiri di ambang salah satu pintu ruangan kotor itu.

sang pemandu melanjutkan ceritanya sambil matanya memandang langit-langit kamar yang nyaris runtuh, “mungkin penyebab ibu meninggal muda adalah ia tidak tahan menanggung derita dimadu ini”, katanya lirih. Seperti tidak ditujukan pada siapapun.

 

1 Response to “Jendela Kartini: Perjalanan Rembang”


  1. 1 Fa, Fa! November 11, 2009 pukul 6:16 pm

    ada keslahan efek singularitas pada ucapan pemandunya, konteks sosio historisnya tak seperti sekarang. dimadu dan tak dimadu…?
    pertanyaan yang seakan abdi melintasi waktu, padahal sebenarnya tak ada satu manusia-pun yang lahir dan tumbuh tanpa keterlanjuran budaya. hiruk pikuk dunia dan hingar-bingarnya, seakan semuanya akan normal saja seandainya yang ada hanyalah dunia sebelum kita adalah dunia yang putih bersih, tanpa noda, kosong melompong, seperti jurang tanpa dasar, dimana saat kita menatapnya, maka jurang tersebut menatap balik kita, menelan semuanya dalam kegelapan, tanpa sisa…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: