Keroncong dan Saya: Cengkok Batu


Keroncong dan musik

Saya mengenal musik keroncong dari kaset-kaset yang diputar orang tua saya sejak kecil. Ibu saya yang penyanyi amatir di masa mudanya kemudian mengajarkan beberapa lagu pada saya. Tiga lagu yang diajarkan pada saya adalah Ibu Pertiwi, Hari Merdeka, dan Keroncong Bandar Jakarta. Kemudian beberapa lagu lain yang sampai sekarang pun masih saya hapal. Saya menyukai lagu-lagu itu seperti lagu-lagu dari jenis musik lainnya.

Tahun 1995 saya ikut membentuk orkes keroncong Rindu Order di kampus. Kami belajar dari teman-teman pengamen Terminal Kebon Kelapa Bandung yang tergabung dalam Little Keroncong. Mereka orang-orang hebat yang belajar musik secara otodidak: di jalanan dan bis antar kota. Setelah menjadi pemain musik keroncong kesukaan terhadap musik keroncong bertambah karena berbagai teknik yang saya pelajari. Saya menikmatinya seperti saya menikmati belajar musik blues dan jazz.

Saya tidak punya kelompok keroncong yang menjadi idola. Namun saya sangat respek pada Sinten Remen-nya Jaduk Ferianto dan Sarekat Keroncong (Bandung). Musik mereka terbuka namun tidak genit. Maksud saya, mereka memainkan musik secara optimal menggali unsur-unsur musiknya, tanpa harus pake dandanan yang macam-macam di panggung.

Dari berbagai versi catatan sejarah tentang musik keroncong, saya menyukai versi yang membandingkan sejarah musik keroncong dengan musik blues di amerika. Musik hybrid, instrumen temuan, perbudakan, dan ritus agama merupakan unsur-unsur yang ada di keduanya. Namun tidak seperti blues yang kemudian berkembang menjadi jazz dan rock yang sanggup diterima banyak kalangan dan media, keroncong belum bergaya dan dimainkan dengan terbuka seperti sepupunya regae.

Hal penting dalam sejarah keroncong adalah penggunaan cuk (ukulele) dan gitar yang kemudian menjadi ciri pokok keroncong. Pemakaian alat-alat itu sangat global, seperti kita menggunakan keyboard atau piano pada masa kini. (makanya saya nggak paham bagaimana bisa banyak orang menggolongkan musik keroncong sebagai musik tradisionil!).

Bagian sejarah penting lain dalam perkembangan musik keroncong adalah adanya dominasi budaya jawa di indonesia. Kesenian jawa (Mataram?) telah memberi sumbangan yang besar pada musik keroncong melalui harmonisasi yang rinci, kendangan celo, dan…kebaya haha.

 

Cuk, cak, celo, gitar, bas, biola, flute adalah instrumen yang diajarkan pada saya sebagai instrumen tetap di orkes keroncong. Dalam pengalaman saya dari th 95 sampai sekarang, kami sering menambahkan beberapa instrumen lain seperti mandolin, kendang, keyboard, trumpet, backing vokal, dan saxsophone.

 

Menurut saya musik keroncong adalah musik modern yang merakyat, bukan musik tradisionil yang kaku dan renta. Jika ia selalu kita tempatkan sebagai musik masa kini maka akan selalu terbuka pada pembaharuan dan pasar.

Musik keroncong bagi saya punya beberapa ciri; pertama, dia campuran antara musik (notasi) barat dengan estetika lokal seperti jawa, papua, ambon, melayu, cina, dsb. percampuran ini juga ditandai dengan instrumen yang berpadu antara golongan lute dan perkusi lokal.

Ciri kedua adalah adanya beberapa pola bentuk lagu seperti keroncong, langgam, stambul, dan beberapa pola lain yang dibentuk dari estetika lokal nusantara.

Ciri ketiga adalah harmonisasi. Saya sulit menjelaskannya secara teoritik karena saya bukan lulusan sekolah musik, namun saya melihat adanya keselarasan (bukan berbarengan) dari banyaknya instrumen yang digunakan.

 

Saya barangkali berbeda dengan kebanyakan orang yang menempatkan cengkok bernyanyi sebagai salah satu ciri keroncong. Bagi saya cengkok yang “diwajibkan” itu hanya punya beberapa orang jawa saja, yang kebetulan punya kesempatan untuk menyebarkan seleranya lewat lomba dan festival bintang radio dan televisi. Tak ada cengkok keroncong, yang ada cengkok mus mulyadi atau cengkok waljinah saja. Salut buat beliau-beliau itu.

Musik masa kini, terutama kaitannya dengan media penyebarannya menurut saya memilki peluang yang luas bagi pekerja keroncong untuk turut bertempur dengan elegan. Musik masa kini variatif seperti juga keanekaragaman radio dan televisi serta panggung sebagai arenanya.

Jika orang banyak bilang keroncong perlu dilestarikan, saya cenderung lebih suka istilah Keroncong perlu diHIDUPkan. Hidup artinya bernafas, berinteraksi, mengalami suka-duka, bertengkar, bercinta, mematut diri, bekerja, bekerja, dan bekerja. Gak harus jadi remaja dengan memelas, tapi hidup. Ia tidak disikapi sebagai warisan budaya yang harus dikurung kaca melainkan dimainkan dengan keriangan. Buat apa lestari tapi berupa arca atau mumi. Menurut saya kita pun tak perlu mendandani diri seperti tessy untuk memainkan keroncong agar disukai lebih banyak orang lagi, yang wajar dan gaul saja. Penggarapan musiknya lah yang terpenting, baru kemudian menampilkannya di televisi dan panggung.

Bagi saya video klip yang bagus dan pentas-pentas adalah media yang cocok untuk mengenalkan musik keroncong. Juga alangkah bagusnya jika lebih banyak lagi buku atau edia ceak lain yang menulis apresiasi dan notasi musik keroncong. Walaupun buku memiliki penggemarnya sendiri yang berbeda dengan penggemar musik, namun ia dapat melengkapi masyarakat dengan pemahaman dan catatan penting lainnya mengenai suatu kesenian. Hal pokok yang dapat diguakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya. Buku atau tulisan dapat memperkaya penggemar keroncong dengan wawasan dan mengilhami kreativitas, namun musiknya sendiri lebih berhak untuk digauli secara lebih mesra.

(tulisan diatas merupakan suntingan dari wawancara yang diolakukan seorang teman pada saya tentang musik keroncong)

9 Responses to “Keroncong dan Saya: Cengkok Batu”


  1. 1 aminyk September 25, 2008 pukul 9:02 am

    cerita yang baru-baru dong. saya kan belum dengar.

  2. 2 Jiwa Musik November 29, 2008 pukul 2:35 pm

    aku juga suka keroncong😉

  3. 3 imam d. kamus Desember 25, 2008 pukul 10:54 am

    Riwayat keroncong bukan hanya meliputi musiknya (tekstual) tetapi lebih dari itu (dan inheren) merupakan riwayat perjalanan orang, orang, rombongan dan masyarakat pendukungnya (kontekstual). semula saya berkeyakinan bahwa bentuk dan struktur musik keroncong-lah yang paling penting untuk mengidentifikasi apa itu keroncong kelahiran, pertumbuhan dan perkembangannya. Tetapi rupanya ada hal lain yang tidak kurang pentingnya yaitu bagaimana pendukung budaya musik keroncong memaknai prilaku musikal dan budayanya.
    keroncong tetap punya daya hidup yang luar biasa. namun resistensinya bisa membuat keroncong tidak populer di kalangan ‘anak muda’. bagaimana tidak, misalnya lagu2 yang muncul merupakan lagu2 lama, sedangkan ‘anak muda’ ssekarang bahkan tidak memahami teks lagu2 tersebut. padahal kekuatan keroncong sebagai musik vokal (resitatif akompanyemen) berada pada syairnya. lalu bagaimana dengan bentuk musiknya?
    Musik keroncong mengadopsi lagu2 populer awal abad ke-20 menjadi bentuk langgam keroncong, lalu mengutip (meminjam?) repertoar yang dipakai Komedie Stambul menjadi bentuk Stambul Keroncong. lalu muncul langgam Jawa, langgam Sunda, Makasar, dll.
    …(Bersambung…)

  4. 4 echizen11 Agustus 14, 2010 pukul 9:56 am

    boleh nanya gak? kalo musik keroncong itu contohnya musik apa aja? kalo bisa 3 yah… hehe (kaya jawab soal)

  5. 5 Olsy Oktober 15, 2010 pukul 2:32 am

    Lama sekali saya menunggu implementasi dari kata “bersambung…” yang diapit oleh tanda kurung pada ujung komentar Imam D Kamus. Dua tahun.

    Tapi baiklah, ketimbang menunggu tanpa pemberhentian, saya ikut ngobrol aja tentang keroncong.

    Bagi saya, keroncong bukan sekadar peristiwa musikal. Bila berbicara keroncong dalam pengertian yang luas, kita akan bertemu dengan indeks-indeks kebudayaan yang serupa dengan Jazz yang dari padanya lahirlah karya-karya kejeniusan berupa rock, blues dan juga swing sebagai anak sulung jazz.Oleh karena itu, keroncong harus dipahamai sebagai sebuah peristiwa budaya yang memanfaatkan segala kemungkinan dan segala keluasan musik. Tanpa itu kita hanya akan melihat keroncong sebagai sesuatu yang diam-diam dari kejauhan mengintip kejayaan musik-musik yang dikembangkan oleh kerakusan manajemen pemasaran televisi.

    Urusan pragmatisme-praksis-fungsionalitas, tentu Ramses dan juga Imam D. Kamus punya kewenangan yang lebih luas untuk berbicara mengenai masalah rumah tangga keroncong; sistem penandadan irama, karakter instrumen, transformasi dan interkasi keroncong dengan jenis-jenis musik dan juga kebegajulan panggungnya, dan juga keroncong itu sendiri sebagai realitas suara bernada.

    Tapi saya melihat pula ada hal lain dari keroncong yang tidak melulu masalah musik, representasi musik dan kemudian masyarakat musiknya. Keroncong dari “takdir” kemunculannya tampaknya disiapkan menjadi sebuah musik yang mampu berdialog dengan musik lain sehingga sebagai sebuah entitas kebudayaan, keroncong akan selalu ada meski manajemen pemasaran dan manajemen isu neo-lib barangkala hanya menempatkan keroncong sebagai daftar tunggu di UNESCI untuk didaulat sebagai warisan dunia, menyusul batik yang telah diakui tapi malah semakin menguatkan para pembelanja-pembelanja kelas kakap (dan tetap mengabaikan pebatik-pebatik tulen di pelosok-pelosok Jogja yang tak dihiraukan lensa kamera televisi).

    Keroncong pun adalah persoalan serius tentang tafsir sejarah atas suatu kebudayaan, implementasi atas tafsir sejarah tersebut dan kesadaran musikal suatu masyarakat. Bila kita melihat kesadaran musikal suatu masyarakat lewat keroncong, saya menunjukkan Sinten Remen yang tidak hanya berhenti pada Sinten Remen. Namun, Djaduk lewat proyek lain, Lagu Natal (2006) menantang kemampuan musik gregorian (yang telah “dipopkan”) dalam memahami bahasa yang dibunyikan oleh cuk; cuk sebagai cuk.
    Tuhan Sumber Gembiraku adalah lagu Katolik yang kerap menjadi bagian perayaan ekaristi. Artinya, perayaan ekaristi yang pada dasarnya adalah suatu sinkritisme Eropa terhadap tafsir atas ajaran Yesus yang Hibrani, didialogkan dengan cuk yang pesisir, egaliter, dan nusantara meski tetap berwajah Barat. Cuk ada dalam persitiwa itu, suatu peristiwa yang saat ini diharapkan kehadirannya tapi tak diakui keberadaannya; dialog atas perbedaan yang bukan soal kalah-menang. Sebagai sebuah praktek dialog, cuk pada lagu tersebut tetap berperilaku sebagai cuk sebagaimana pada keroncong.

    Bagi saya pun, memperkenalkan keroncong pun tidak harus, meski sebaiknya memang iya, lewat musik keroncong itu sendiri secara utuh. Djaduk dengan lagu “Tuhan Sumber Gembiraku” telah menunjukkan cara lain memperkenalkan keroncong. Lalu, seperti yang telah disebut Ramses, hal pokok yang dapat digunakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya juga mengenai kemampuan keroncong berdialog dengan dunianya. Bondan Prakoso-Fade to Black, apapun hasilnya dan dalam kepentingan apa dilakukan, telah mencobanya.

    Maka yang perlu dipikirkan, menurut saya adalah, perumusan bahasa yang lebih populer terhadap penyusunan representasi keroncong sebagai obyek historiografi dan juga representasi keroncong dalam etnomusikologi. Terlepas apakah dia kemudian diakui UNESCO apa kagak, gak jadi soal. Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong.

    Dan, yang perlu dihindarkan, jangan biarkan keroncong seperti busana dan bank yang ternyata di Indonesia telah punya agama… :))

  6. 6 Olsy Oktober 23, 2010 pukul 8:36 am

    Ralat:
    Pada komentar saya terhadap tulisan Keroncong dan Saya: Cengkok Batu, ada beberapa kesalahan ketik yang bisa jadi membuat pembaca bersungut-sungut. Maka saya benahi sebagai berikut:

    1. Tertulis UNISCI. Seharusnya UNESCO.
    2. Tertulis sistem penandadan irama. Seharusnya sistem menandaan irama.
    3. Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong. Seharusnya, Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan SERUPA dengan keroncong.

    Demikian.

  7. 8 Jack November 17, 2011 pukul 7:31 am

    Tak ada cengkok keroncong,
    yang ada cengkok mus mulyadi atau
    cengkok waljinah saja. Salut buat
    beliau-beliau itu.
    Kok bs begitu mas?
    Pengalaman yg mas ceritakan jg saya alami. Sejak kecil (tahun 85/ SD kelas 6) sy sdh akrab dgn musik keroncong krn ayah sy mempunyai group/ orkes keroncong. Meskipun waktu itu sy tdk trtarik sm sekali. Tp krn tiap minggu latihan mau tdk mau telinga sy jd akrab dgn kroncong.
    Kmbali ke topik, Bukankah tiap2 penyanyi punya cengkok khas sendiri2, asal itu tdk melebihi batas? Yang intinya ada pada “RASA”. Rasanya tetap “keroncong” dan bukan rasa yg lain (pop, dangdut), itu yg membedakannya. Karena tdk semua bs melakukan itu. Kalau anda check maka (cengkok) dominasi nada yg menghiasinya tiap penyanyi beda banget.


  1. 1 DUA TANGGAPAN ATAS CENGKOK BATU « Surobuldog's Weblog Lacak balik pada Oktober 21, 2010 pukul 4:09 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: