Keroncong: Romantik, Antik, dan tak Berkutik


saya menyukai banyak jenis musik. salah satunya keroncong.

waktu umur 8 tahun ibu saya yang dulunya penyanyi amatir pertama kali mengajarkan saya beberapa lagu:

Ibu Pertiwi, Hari Merdeka, dan Kerocong Bandar Jakarta. Setelah saya hapal kemudian beliau mengajarkan lagu-lagu lain:

Langgam Bunga Anggrek, Sampul Surat, dan Terkenang-Kenang. Belaiu tidak mengajarkan lagu anak-anak, karena pada saat itu banyak didengar di teve dan radio untuk dihafal.

Sampai saat ini lagu-lagu yang diajarkan ibu saya itu, dan beberpa lagu lain yang juga diperkenalkan pada saya, masih saya hapal dan sukai untuk dimainkan.

pada saat saya smp, di rumah saya ada beberapa kali latihan keroncong bapak dan teman-temannya digelar. saya suka keroncong.

Keroncong diyakini sebagai musik asli Indonesia. Walaupun instrumen utama keroncong adalah ukulele yang dibawa orang-orang portugis, namun ia telah dimainkan dengan cita rasa orang maluku, dayak, melayu, jawa, bugis; orang Indonesia.

Konon penggunaan instrumen impor itu dilakukan oleh masyarakat bawah (budak?) yang bekerja pada orang portugis dan belanda.

Dalam hal instrumen saya melihat kesamaan pola akulturasi keroncong dengan kelahiran musik blues di amerika.

Dalam masa perkembangannya, keroncong pernah mengalami masa keemasan yaitu sekitar jaman kemerdekaan sampai tahun 60-an. Di masa itu misalnya, Presiden Soekarno pernah memprakarsai serial album keroncong bertajuk Keroncong Galian Bung Karno.

Lazimnya musik yang berkembang di kalangan masyarakat maka keroncong biasa dimainkan dengan penuh keakraban dengan penonton.

Pada panggung musik keroncong sebuah kelompok keroncong biasanya menyuguhkan dua bagian pentas yaitu bagian awal mereka akan memainkan repertoar yang sudah disiapkan dan bagian pada kedua akan terjadi interaksi dengan para penonton yang mencakup pemenuhan permintaan lagu dan mengiringi penonton yang mau menyanyi.

Jika kita lihat acara musik keroncong di televisi sekarang maka kita tidak akan melihat kebersahajaan musik keroncong itu.

Para pemain dengan seragam batik dibelakang penyanyi duduk berjajar memainkan instrumennya dengan wajah serius dan mulut tertutup rapat, sementara sang penyanyi berdiri tegak melantunkan lagunya. Ia tidak beranjak.

Hal yang tak kalah pentingnya dalam perkembangan musik keroncong adalah persentuhannya dengan musik tradisonil terutama musik jawa. Penggunaan instrumen keroncong mulai mengadopsi pola gamelan begitu pula dengan cara bernyanyi (cengkok).

Ini merupakan fase yang penting dalam pertumbuhan musik keroncong sebab dengan berasimilasinya musik keroncong dengan musik dan budaya jawa maka ia ikut tersebar bersama dominasi budaya jawa yang mencapai hampir wilayah nusantara.

Bahkan dalam penjurian lomba nyanyi bertaraf nasional pun bukan hanya teknik menyanyi yang benar yang dinilai namun juga cengkok jawa dipercaya sebagai kebenaran dalam menyanyikan lagu keroncong.

Tingkat kesulitan bernyanyi dengan cengkok jawa ini barangkali yang membuat dalam nyanyian keroncong jarang menggunakan dua atau tiga suara.

Cara pukul kendangan dan ritme gamelan ini juga barangkali yang membuat lagu-lagu dengan birama ¾ jarang dimainkan.

Sejak keroncong ”di-jawa-kan” kita terbiasa melihat orang memainkan keroncong dengan mengenakan busana batik dan kebaya, pakaian orang jawa (tengah).

Hal lain yang menjadi stereotype keroncong adalah lirik-lirik yang romantik.

Kecintaan akan tanah air, seolah-olah tidak ada penebangan liar hutan dan kelaparan, kekasih yang jelita bagai bulan, lagu melepas orang bertempur yang sampai tahun 2000-an tak tergantikan, dan pantun yang itu-itu juga bikin anak muda menganggap ‘keroncong itu musik engkong gue’, atau musik yang hanya bisa dinikmati para purnawirawan.

Benarkah anak muda tidak bisa menyukai keroncong? Jika ya, siapa yang membuatnya begitu?

3 Responses to “Keroncong: Romantik, Antik, dan tak Berkutik”


  1. 1 yunita April 26, 2011 pukul 1:03 pm

    Jujur gw pengen banget bisa nyanyi keroncong….

  2. 2 Olsy Mei 13, 2011 pukul 6:54 am

    Dalam ukuran sepakbola, saya sudah tua dan gampang cedera tapi saya menyukai keroncong karena pertimbangan ideologi. Maksud saya, ada suatu inferioritas kultural yang sengaja diciptakan oleh industri musik dan oleh proses transformasi kultural dalam perubahan sosial.

    Pada mulanya, sebagai pendengar Pink Floyd dan Beatles–juga dengan alasan ideologis, dan sempat siap jadi martir untuk itu–keroncong bukan sesuatu yang dapat saya tangkap estetika musikalnya. Namun, rock sebagai budaya rakyat, meski saat ini industri musik menuntut kita memberi defenisi kaku tentang budaya rakyat, memiliki pola estetika musikal dengan keroncong. Rock adalah blues yang disederhanakan menjadi 12 atau 8 bar saja, dan demikian pula dengan keroncong.

    Realitas estetika musikal seperti ini membuat keroncong, menurut teori Darwin, mempunyai–atau dari sononya memeliki kemampuan yang hebat dalam beradaptasi dan adaptasi ini ada dalam pengertian untuk bertahan hidup. Blues, rock, jazz dan keroncong adalah budaya hibrid terhadap budaya agung: budaya kulit putih dan budaya imperialis.Kehibridan keroncong ini membuatnya tidak akan aneh, bila gitaris, atau pemain biola atau seksi melodi memainkan nada-nada blues. Tapi dia tidak sedang melakukan mimesis atas musik “agung”. Dia berdialektika dengan berbagai entitas musik dan pada hakikatnya, memang demikianlah keroncong; tumbuh dalam suatu dialektika. Pada mulanya hanya dialektika dalam batasan penggunaan alat musik Barat (seperti juga jazz), namun kemudian berkembang menjadi dialektika kultural yang memanfaatkan idiom-idiom musik.

    Dan, bagi saya, keroncong memang harus selalu dalam posisi inferior dalam entitas budaya sebagaimana Duke Ellington mati dalam jazznya. Tapi kematian seperti itulah yang justru terus menggulirkan stimulan-stimulan musikal; membuatnya menjaga jarak dengan industri musik yang bersembah puja pada fetisisme hedonis tapi tidak berjarak dengan realitas musik itu sendiri.

    Karena itulah, berkeroncong tidak perlu berbatik karena kini, batik sudah menjadi budaya mapan yang melenakan. Keroncong hanya perlu dimainkan terus-menerus. Eternal Recureance, kata Nietzsche.

  3. 3 Olsy Mei 13, 2011 pukul 7:03 am

    NB: Pertanyaan pada paragraf terakhir tulisan Ramses ini tidak perlu dijawab. Mainkan saja keroncong itu, maka jawabannya akan lahir ketika nada-nadanya mengalun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: