Memandang Laut


Memandang Laut

Lepas dari Tanjung Perak dan pemandangan pabrik-pabrik Gresik mulai jauh, barulah laut berwarna biru seperti kata orang. Tadi di pelabuhan airnya kotor sekali. Kapal baru berangkat setelah 8 jam dari jadwal keberangkatan. Biasa, katanya.

Dan sekarang riuh pelabuhan sudah berganti dengan desir kencang angin dan, deru mesin kapal, dan kecipak haluan memecah ombak. Di dalam dek ekonomi yang saya naiki memang ramai orang menata barang-barang namun nampak kelegaan di wajah-wajah yang tadinya jemu menunggu. Saya lebih suka di luar saat kapal meninggalkan pelabuhan. Memandang laut tak pernah bosan. Entah kenapa. Barangkali jika tak angin besar maulah saya terus di geladak ini. Kapal putih, begitu orang papua menyebut kapal besar ini.  Bergerak laju membelah ombak dan angin, ke timur.

Saya bukan orang yang akrab dengan laut dan puisi, jadinya saya tak bisa membuat puisi di perjalanan yang menarik ini. Diatas kapal saya bertemu banyak orang dengan berbagai aksen bicara dan gaya. Ada yang hendak berniaga, ada yang hendak pulang kampung setelah 25 tahun tak pulang di rantau dan sudah dianggap mati, ada yang mencari peruntungan dan menjemput janji, ada yang tersingkir dan pergi bertransmigrasi. Ramai sekali. Tentu saja perkenalan saya dengan orang-orang itu terjadi setelah hari pertama karena saat di pelabuhan nampaknya orang-orang haya terfokus pada barang bawaannya saja dan saling curiga serta berebut naik. Barangkali juga karena di laut lepas tak ada sinyal hp yang acapkali membuat orang asyik sendiri. Menjelang hari kedua orang-orang mulai berinteraksi, di jauh laut.

Memandang laut tak pernah jemu, namun berkenalan dan berbicang dengan orang-orang seperjalanan juga mengasyikan. Hal yang jarang saya lakukan di darat; berkenalan dengan orang lain banyak-banyak. Entah kenapa. Barangkali laut mempengaruhi, membuat Pandangan tak berbatas.

Ada seorang laki-laki yang saya ajak minum kopi bareng bercerita: ia sering bunuh orang dengan imbalan uang dan sekarang katanya, ”…dipanggil ke Irian untuk menyelesaikan suatu urusan“.

Ada seorang ibu dengan anaknya yang hanya bisa tergolek sedang menuju ke tempat dimana barangkali disana bisa menyembuhkan penyakit anaknya.

Ada seorang bapak dengan bawaan yang menurut saya amat banyak hendak menjual barnag-barang itu dengan harga yang berlipat dan berencana membawa pulang komoditas lain untuk dijual dan begitu seterusnya. Kapal menjadi jendela bagi saya menyaksikan beragam penghidupan dan harapan.

Makin ke timur laut makin lengang. Sesekali kawanan lumba-lumba terlihat berlompatan, atau perahu nelayan layarnya terbentang di kaki langit. Kapal yang saya tumpangi membuang sampah-sampahnya ke laut dari pintu dapur. Plastik-plastik dan sisa makanan itu membentuk gumpalan berkilauan di pecahan ombak. Ikan-ikan terbang berebut disekitarnya.

Makin ke timur awan bersandar di dinding langit. Serasa dekat.

Di beberapa tempat yang saya singgahi nampak bangunan-bangunan baru; perumahan, pabrik-pabrik, usaha perikanan dan mutiara.

Seorang kenalan di kapal, orang Ambon bilang,” pegawainya tak ada satupun orang sini. Semua didatangkan dari jawa”.

Di timur konon ada pulau emas dan kepulauan mutiara, namun saya tak menjumpai apa yang saya bayangkan seperti di dongeng-dongeng: bangunan berlapis emas, pakaian berhias mutiara, ikan yang melimpah. Yang nampak adalah arak-arakan kecemasan dan hasrat belanja.

Di tempat yang tak mengenal dua musim ini hujan dan badai bisa datang setiap saat.

Memandang laut menyaksikan matahari terbit diselimuti awan hitam.

2 Responses to “Memandang Laut”


  1. 1 si meta empat November 28, 2008 pukul 12:05 pm

    Hmmm laut adalah keberanian, kata Toto Sudarto Bachtiar. Dan Ramses, aku acungkan jempol kaki untukmu: lelaki pemberani mengarungi laut demi menuju timur, sebab kutahu benar, kau tak bisa berenang, bahkan gaya meluncur bebas pun kau tak becus. Tabik!


  1. 1 Sbobet Lacak balik pada Mei 2, 2014 pukul 7:13 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: