Banjir Besar Hancurkan Kota Wasior


Senin 4 Oktober 2010, dini hari menjelang subuh, masyarakat Kota Wasior dikejutkan oleh datangnya air bah yang tiba-tiba menghantam mereka. Air bah itu membawa serta lumpur, batu-batuan besar, dan kayu log dari atas gunung meluncur turun menerjang beberapa kampung di bawahnya. Dalam sekejap, subuh yang sunyi berubah menjadi bencana penuh jerit tangis menyayat dari mereka yang tak sempat menyelamatkan diri.
Banjir terjadi setelah semalam suntuk hujan lebat melanda Kota Wasior. Hujan semalaman itu telah membuat 4 buah sungai sekitar Kecamatan Kota Wasior meluap, yaitu Sungai Sandoway, Anggrisi, Miei, Manggorai, dan Masabowai. Ada 6 kampung yang mengalami kerusakan terparah, yaitu kampung Isuy, Mangguray, Waskam, Wasior kota, Myei, dan Rado. Dua kecamatan lainnya juga terkena dampak banjir, antara lain Rasiki dan Wandiboi, namun belum teridentifikasi tingkat kerusakan dan jumlah korban disana. Air menggenang hingga siang hari, mencapai setinggi kurang lebih 5 meter.
Berbagai fasilitas umum hancur, ratusan rumah penduduk, puskesmas, toko-toko, perkantoran, dan berbagai fasilitas umum rusak berat. Setelah air surut, seluruh kota dipenuhi lumpur setinggi pinggang orang dewasa. Di beberapa tempat lumpur mencapai 2 meter, menenggelamkan rumah-rumah hingga menyisakan atapnya saja. Ketika Metro TV menayangkan gambar Wasior dari udara, tampak pemandangan mengerikan menyerupai Aceh saat dilanda tsunami.

Sampai Rabu malam (6/10) korban meninggal tercatat 89 orang, dan ratusan mengalami luka-luka. Korban terbanyak adalah anak-anak. Puluhan orang dilaporkan hilang, dan saat ini masih dalam pencarian. Diperkirakan korban akan terus bertambah karena beberapa lokasi yang masih sulit dijangkau.

Korban luka-luka dievakuasi ke kota Nabire dan Manokwari untuk mendapatkan perawatan, karena kondisi rumah sakit di Wasior juga sangat menyedihkan. Kapal-kapal Pelni yang biasanya tidak melewati rute Wasior, diarahkan untuk sandar di pelabuhan Wasior untuk membawa bantuan serta evakuasi pengungsi ke Manokwari dan Nabire. Di Manokwari, pengungsi telah mencapai 600an orang, dan diperkirakan akan terus bertambah.

Jaringan komunikasi terputus, baik telepon seluler maupun telkom tak berfungsi. Listrik juga mati total, karena fasilitas PLN terendam lumpur tak bisa beroperasi. Di malam hari Wasior gelap gulita, sementara korban selamat hanya tinggal menunggu di tempat yang kering dengan satu-satunya pakaian melekat di badan, basah dan penuh lumpur. Sementara itu bahan makanan pun sangat kurang dan bantuan masih sedikit yang datang. Ancaman penyakit kini mengintai penduduk yang selamat, antara lain malaria, diare, Ispa, dan penyakit kulit.

Penduduk sangat membutuhkan pakaian, makanan, obat-obatan, selimut, tenda, dan air bersih. Khusus untuk anak-anak sangat dibutuhkan makanan bayi dan susu. Sedangkan khusus untuk perempuan perlu ditambahkan pakaian dalam dan pembalut wanita.

Sebagai informasi: Wasior adalah ibu kota kabupaten Teluk Wondama, bagian dari Propinsi Papua Barat. Jika kita membuka peta, Teluk Wondama terletak di sepanjang leher belakang (tengkuk) kepala burung pulau Papua. Kecamatan Wasior memiliki luas wilayah sekitar 1.461,16 km2, dengan kemiringan 0-40 m dari permukaan laut. Kota ini berjarak 120 km dari Manokwari ibu kota propinsi Papua Barat. Karena tidak ada jalan darat, maka perjalanan ke Manokwari dan Nabire hanya bisa ditempuh dengan kapal laut selama kurang lebih 8 jam.

Sebelum menjadi kota, Wasior dulunya adalah rawa-rawa yang ditumbuhi sagu alam. Sedangkan di sepanjang bukit dan tepi aliran sungai adalah hutan belantara. Namun kini rawa-rawa nyaris habis ditimbun, kebun sagu ditebangi, dan hutan dibersihkan, sebagai gantinya berdiri bangunan perkantoran, perumahan penduduk, supermarket, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Di dekat Wadior terdapat kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih. Tetapi di jauh di dalam hutan, bercokol dua HPH raksasa PT. Wapoga Mutiara Timber dan PT. Dharma Mukti Persada, serta aktivitas-aktivitas illegal logging oleh para pengusaha lainnya.

Bencana Wasior adalah luka Papua dan kita semua. Namun juga pelajaran mahal bagi sebuah proses pembangunan yang dirancang asal-asalan dan tak mengindahkan keseimbangan ekosistem alam. (6/10/2010)

(Danar Wulandari October 6 at 9:49pm Report )
tulisan ini juga bisa dibaca di http://belantarapapua.org

0 Responses to “Banjir Besar Hancurkan Kota Wasior”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: