DUA TANGGAPAN ATAS CENGKOK BATU


Berikut ini adalah dua tanggapan atas tulisan saya Keroncong dan Saya: Cengkok Batu
Dua komen ini sengaja saya tampilkan sebagai tulisan baru di blog ini karena menarik buat saya. Semoga juga buat Anda.

IMAM D KAMUS
Desember 25, 2008 pukul 10:54 am
Riwayat keroncong bukan hanya meliputi musiknya (tekstual) tetapi lebih dari itu (dan inheren) merupakan riwayat perjalanan orang, orang, rombongan dan masyarakat pendukungnya (kontekstual). semula saya berkeyakinan bahwa bentuk dan struktur musik keroncong-lah yang paling penting untuk mengidentifikasi apa itu keroncong kelahiran, pertumbuhan dan perkembangannya. Tetapi rupanya ada hal lain yang tidak kurang pentingnya yaitu bagaimana pendukung budaya musik keroncong memaknai prilaku musikal dan budayanya.
keroncong tetap punya daya hidup yang luar biasa. namun resistensinya bisa membuat keroncong tidak populer di kalangan ‘anak muda’. bagaimana tidak, misalnya lagu2 yang muncul merupakan lagu2 lama, sedangkan ‘anak muda’ ssekarang bahkan tidak memahami teks lagu2 tersebut. padahal kekuatan keroncong sebagai musik vokal (resitatif akompanyemen) berada pada syairnya. lalu bagaimana dengan bentuk musiknya?
Musik keroncong mengadopsi lagu2 populer awal abad ke-20 menjadi bentuk langgam keroncong, lalu mengutip (meminjam?) repertoar yang dipakai Komedie Stambul menjadi bentuk Stambul Keroncong. lalu muncul langgam Jawa, langgam Sunda, Makasar, dll.
…(Bersambung…)

OLSY,
Oktober 15, 2010 pukul 2:32 am
Lama sekali saya menunggu implementasi dari kata “bersambung…” yang diapit oleh tanda kurung pada ujung komentar Imam D Kamus. Dua tahun.

Tapi baiklah, ketimbang menunggu tanpa pemberhentian, saya ikut ngobrol aja tentang keroncong.

Bagi saya, keroncong bukan sekadar peristiwa musikal. Bila berbicara keroncong dalam pengertian yang luas, kita akan bertemu dengan indeks-indeks kebudayaan yang serupa dengan Jazz yang dari padanya lahirlah karya-karya kejeniusan berupa rock, blues dan juga swing sebagai anak sulung jazz.Oleh karena itu, keroncong harus dipahamai sebagai sebuah peristiwa budaya yang memanfaatkan segala kemungkinan dan segala keluasan musik. Tanpa itu kita hanya akan melihat keroncong sebagai sesuatu yang diam-diam dari kejauhan mengintip kejayaan musik-musik yang dikembangkan oleh kerakusan manajemen pemasaran televisi.

Urusan pragmatisme-praksis-fungsionalitas, tentu Ramses dan juga Imam D. Kamus punya kewenangan yang lebih luas untuk berbicara mengenai masalah rumah tangga keroncong; sistem penandadan irama, karakter instrumen, transformasi dan interkasi keroncong dengan jenis-jenis musik dan juga kebegajulan panggungnya, dan juga keroncong itu sendiri sebagai realitas suara bernada.

Tapi saya melihat pula ada hal lain dari keroncong yang tidak melulu masalah musik, representasi musik dan kemudian masyarakat musiknya. Keroncong dari “takdir” kemunculannya tampaknya disiapkan menjadi sebuah musik yang mampu berdialog dengan musik lain sehingga sebagai sebuah entitas kebudayaan, keroncong akan selalu ada meski manajemen pemasaran dan manajemen isu neo-lib barangkala hanya menempatkan keroncong sebagai daftar tunggu di UNESCI untuk didaulat sebagai warisan dunia, menyusul batik yang telah diakui tapi malah semakin menguatkan para pembelanja-pembelanja kelas kakap (dan tetap mengabaikan pebatik-pebatik tulen di pelosok-pelosok Jogja yang tak dihiraukan lensa kamera televisi).

Keroncong pun adalah persoalan serius tentang tafsir sejarah atas suatu kebudayaan, implementasi atas tafsir sejarah tersebut dan kesadaran musikal suatu masyarakat. Bila kita melihat kesadaran musikal suatu masyarakat lewat keroncong, saya menunjukkan Sinten Remen yang tidak hanya berhenti pada Sinten Remen. Namun, Djaduk lewat proyek lain, Lagu Natal (2006) menantang kemampuan musik gregorian (yang telah “dipopkan”) dalam memahami bahasa yang dibunyikan oleh cuk; cuk sebagai cuk.
Tuhan Sumber Gembiraku adalah lagu Katolik yang kerap menjadi bagian perayaan ekaristi. Artinya, perayaan ekaristi yang pada dasarnya adalah suatu sinkritisme Eropa terhadap tafsir atas ajaran Yesus yang Hibrani, didialogkan dengan cuk yang pesisir, egaliter, dan nusantara meski tetap berwajah Barat. Cuk ada dalam persitiwa itu, suatu peristiwa yang saat ini diharapkan kehadirannya tapi tak diakui keberadaannya; dialog atas perbedaan yang bukan soal kalah-menang. Sebagai sebuah praktek dialog, cuk pada lagu tersebut tetap berperilaku sebagai cuk sebagaimana pada keroncong.

Bagi saya pun, memperkenalkan keroncong pun tidak harus, meski sebaiknya memang iya, lewat musik keroncong itu sendiri secara utuh. Djaduk dengan lagu “Tuhan Sumber Gembiraku” telah menunjukkan cara lain memperkenalkan keroncong. Lalu, seperti yang telah disebut Ramses, hal pokok yang dapat digunakan sebagai pengenalan musik keroncong pada generasi muda adalah musik itu sendiri melalui media-medianya juga mengenai kemampuan keroncong berdialog dengan dunianya. Bondan Prakoso-Fade to Black, apapun hasilnya dan dalam kepentingan apa dilakukan, telah mencobanya.

Maka yang perlu dipikirkan, menurut saya adalah, perumusan bahasa yang lebih populer terhadap penyusunan representasi keroncong sebagai obyek historiografi dan juga representasi keroncong dalam etnomusikologi. Terlepas apakah dia kemudian diakui UNESCO apa kagak, gak jadi soal. Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong.

Dan, yang perlu dihindarkan, jangan biarkan keroncong seperti busana dan bank yang ternyata di Indonesia telah punya agama… 😀

2 Responses to “DUA TANGGAPAN ATAS CENGKOK BATU”


  1. 1 Olsy Oktober 23, 2010 pukul 8:45 am

    Ralat:
    Dalam tulisan yang merupakan komentar saya terhadap tulisan “Keroncong dan Saya: Cengkok Batu”, ada beberapa kesalahan dan keluputan ketik yang bisa jadi membuat pembaca bersungut-sungut. Maka saya benahi sebagai berikut:

    1. Tertulis, UNISCI. Seharusnya UNESCO.
    2. Tertulis, sistem penandadan irama. Seharusnya sistem menandaan irama.
    3. Tertulis, Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan dengan keroncong. Seharusnya, Toh, Amerika Serikat tidak kasak-kusuk dengan Jazz, Swing, Blues, celana jins biru di UNESCO, yang punya logika pertumbuhan SERUPA dengan keroncong.

    Demikian.

  2. 2 Olsy Oktober 23, 2010 pukul 8:47 am

    Masih Ada yang salah, ini malah dalam bagian “ralat”, UNISCI seharusnya UNESCI untuk telah dibenarkan melalui ralat pertama menjadi UNESCO🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: