Y


Aku melihat tepian jakarta dari jendela awan, seperti menatap papan catur usang. Yang mati dikorbankan bertumpuk gelimpang di pinggir arena. Pernah ada dan tak sungguh-sungguh hilang. Tubuh-tubuh berbalut ampas kopi dan abu rokok menunggu giliran dimainkan lagi jika raja baru bertahta. Untuk disingkirkan lagi.

Sama seperti anak-anakmu, pertiwi, berjejal di kereta ekonomi menuju lampu bernama kota. Tak pernah yakin bisa bertahan, tak pernah percaya tanah cukup ramah. Hidup hanya bersandarkan pada siapa tahu.

“Di sini akan dibangun jembatan yang menghubungkan kemiskinan dengan mimpi”, begitu katamu parau. Sesaat itu seperti membisikan keluh bahwa hidup bukan hanya soal jembatan besi selebar satu meter atau warnet yang menjejalkan dunia di sepotong usb.

Lalu kau Pergi.

Atau Pulang lebih tepatnya.

Tunai.

Dan aku melihat jendela awan dari tepian jakarta, seperti kotak-kotak papan catur usang. Tidak hitam benar dan bukan putih seperti namanya. Kadang kuning kadang hijau kadang merah. Disitu bayanganmu yang hadir seperti lampu lalu lintas. Dan orang-orang tergesa menatapnya. Tak pernah yakin bisa bersabar. Hidup makin percaya pada siapa yang kuat, siapa yang cepat.

0 Responses to “Y”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

Oktober 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: