Tulisan RJ

Spirit Seniman Modern

Formalisme Sebagai Titik Pandang Mendasar

Apakah seni lukis? Apakah lukisan? Dan apakah Seniman? Tiga pertanyaan yang terdengar usang — — usang, semata-mata karena telah terlalu sering dilontarkan, terlalu buru-buru diberi jawaban, yang nota bene tak memuaskan.

Ada baiknya di sini, demi memulai jawaban atas pertanyaan tersebut, saya membuat distingsi antara form dan content dengan berpaling pada pandangan yang dikedepankan oleh Formalisme. Namun perlulah dipahami bahwa pemilahan ini dibuat demi kepentingan analisis semata.

Formalisme Rusia (dalam wilayah susastra) berpandangan bahwa ada hal yang membuat suatu tulisan disebut atau dikategorikan sebagai sebuah puisi. Menurut mereka, hal yang menentukan kekaryaan sebuah puisi atau karya seni bukanlah subjek yang disampaikan atau tema yang diangkat oleh puisi atau karya seni tersebut. Sebuah tulisan menjadi puisi bukan karena tulisan itu mengangkat tema—misalnya—keabsurdan eksistensi manusia, melainkan dia menjadi puisi melulu karena puitis.

Kepuitisan inilah, yang terdiri dari sekumpulan perkakas-perkakas ungkap [expresive devices], yang membuat suatu tulisan disebut sebagai puisi. Dalam puisi, kepuitisan ini terbangun oleh rima, ritma, metrik, jumlah larik, dan lain-lain. Dari hal ini, lahirlah pemilahan antara form dan content. Form adalah untuk menyebut segenap perkakas-perkakas-ungkap yang ada dalam suatu karya, sementara Content untuk menyebut subjek atau tema yang diangkat oleh seniman dalam karyanya. Atau untuk lebih sederhananya lagi, form adalah sebuah mangkuk atau wadah bagi soto panas [content].

Dari “oposisi biner” ini, Formalisme Rusia lebih mengistimewakan form daripada content dalam memperlakukan suatu karya seni. Karena bagi mereka, form inilah yang menentukan kekaryaan dari suatu produk kesenian. Form-lah yang membedakan sebuah puisi yang menceritakan tentang kekejian militer dengan berita koran yang mengabarkan tentang peristiwa penembakan atas para mahasiswa Trisakti. Dengan kata lain, form-lah yang merupakan ruh dari suatu karya seni dan kesenian pada umumnya.

Penalaran Formalisme Rusia dalam dunia susastra ini bisa kita adopsi untuk diterapkan dalam wilayah seni rupa. “Apakah yang membuat suatu lukisan dipandang sebagai suatu karya seni?” Dalam menjawab pertanyaan ini kita memodifikasi penalaran di atas menjadi: “form adalah segala hal yang membuat sebuah gambar (coretan, polesan, dll) dipandang sebagai sebuah karya seni lukis.” Banyak gambar yang bisa kita temui di sekeliling kita, tapi hanya beberapa sajalah yang merupakan karya seni. Form inilah yang memungkinkan kita untuk mengkategorikan segelintir gambar sebagai sebuah lukisan.

Karena content atau tema yang diangkat suatu karya dianggap bukan sebagai elemen yang menentukan kekaryaan sebuah karya seni, maka sebuah karya seni tetaplah karya seni meski dia tidak memuat content apapun, asalkan dia memiliki form. Karena form yang menentukan suatu produk kesenian disebut karya atau bukan, maka form adalah ruh dari karya seni dan kesenian. Seremeh apapun temanya, suatu karya tetaplah karya sejauh ia mengandung terobosan baru dalam hal form ini. Atau dinyatakan dengan terbalik, kita bisa mengatakan bahwa: selantang apapun tema yang digambarkan dalam lukisan, sekritis apapun analisis sosial yang terkandung dalam lukisan, sekeras apapun protes yang diungkapkan dalam lukisan, sehumanis apapun kepedulian sosial atas kaum tertindas yang terungkap dalam lukisan, semua itu tidaklah akan membuat sebuah lukisan berhak disebut sebagai sebuah karya seni jika didalamya tak memuat terobosan baru dalam form.

Pandangan Formalisme ini pada dasarnya merupakan sebuah upaya perayaan dan mengisi “kekosongan-arah” setelah dicapainya kemerdekaan dunia kesenian yang terkristal dalam ungkapan l’art pour l’art. Teriakan “l’art pour l’art” bukanlah kegempitaan kaum borjuis, tapi utamanya ia merupakan pekik-girang ketika sebuah tanah-baru-tak-bertuan ditemukan. Dalam tanah tak bertuan itulah, kesenian insaf bahwa wilayah eksplorasi dunia seni ternyata terbentang amat luas. Dan keluasan wilayah garapan ini, kebangblasan tanah baru ini, di masa-masa sebelumnya tidak terlihat dari titik berdiri kesenian pra-modern, jaman-jaman ketika dunia kesenian masih berparasit pada agama dan istana.

Karena itu Formalisme bisa disebut sebagai juru bicara bagi kemerdekaan kesenian.

Karena kita sudah bisa memahami dan sampai pada kesimpulan bahwa form adalah elemen yang menentukan kualitas kekaryaan produk dari buah-kerja seorang seniman, maka kita pun harus menyudahi pembahasan tentang Formalisme. Dan memang hanya sejauh itu arti penting Formalisme bagi dunia kesenian. Dia telah menunjukkan bahwa form adalah ruh dari karya seni. dan dengan pernyataan Formalisme tersebut, dia telah menyediakan titik-pijak yang kukuh bagi kehidupan kesenian dalam dunia modern.

* * * * *

Konsep Waktu Dalam Kesadaran Modern

Modernisme adalah faham yang percaya bahwa kehidupan modern adalah format sosial yang bisa membikin hidup manusia lebih beradab, lebih berbudaya, lebih sehat dalam kodratnya, lebih merdeka, lebih progress. Ia merupakan jalan pembebasan manusia dari segala batasan-batasan yang ada dalam format kehidupan sebelumnya, yang melandaskan diri pada otoritas iman dan aristokrasi.

Lalu dengan modernisme, keutamaan beralih dari iman ke rasio. Dengan begitu, modernitas melandaskan hidupnya dengan lebih mengutamakan rasio. Karena rasio merupakan fakultas yang dimiliki oleh setiap manusia, maka dengan beralihnya otoritas dari iman dan bangsawan ke rasio ini, berarti pula diraihnya kemerdekaan individu. Sekarang, setiap manusia adalah individu yang otonom dan dipandang sanggup menentukan dirinya sendiri.

Modernisme memandang dirinya sebagai universal. Artinya modernisme bukanlah suatu faham yang khas bagi masyarakat Eropa, tapi ia merupakan faham yang lebih merdeka bagi segenap umat manusia di semua penjuru dunia. Karena itulah muncul apa yang diistilahkan dengan modernisasi, yaitu proses penyebaran nilai-nilai kemodernan pada masyarakat-masyarakat non-modern. Kita sebagai masyarakat Indonesia faham benar dengan istilah itu karena kita mengalaminya. Karenanya, sedikit banyak kita hidup dan meyakini nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang berlaku dalam faham modernisme.

Dua paragraf ini bukanlah uraian tuntas akan konsep modern, modernisme dan modernitas. Dan tulisan ini tidaklah hendak mendedah modernisme dengan tuntas. namun untuk sekarang kita harus memahami tentang konsep waktu dalam kesadaran modern.

Waktu dalam kesadaran modern bersifat linear. Waktu dipahami sebagai sesuatu berlangsung dari titik yang diawali dengan suatu “kelahiran” menuju titik lain yang menjadi akhirnya, yaitu “kematian”. Hegel menggambarkannya dengan ilustrasi biji-biji tasbih di tangan kita. Waktu yang telah berlangsung, tak bisa dialami kembali.

Lalu, waktu dipilah kedalam tiga pilahan umum, yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu adalah masa yang telah kita tinggalkan dan yang telah membentuk masa kini, masa kini adalah masa yang momentous bagi masa depan yang utopia tempat segala ideal-ideal masa kini diproyeksikan.

Ketika waktu dipahami secara linear seperti ini, maka pengalaman, segala peristiwa yang kita alami pada masa kini, pun diinsafi sebagai suatu pengalaman yang khas, partikular, baru, tak tergantikan, dan belum pernah kita alami pada waktu-waktu sebelumnya. Dengan begitu, setiap detik dari waktu yang kita jalani, setiap pengalaman yang dihasilkan dalam proses menjalani waktu linear tersebut, selalulah dipandang dan dipahami sebagai produksi pengetahuan baru, sebagai pengayaan diri, sebagai pengenalan lebih dalam atas diri, sebagai penyempurnaan diri. Hegel menyebutnya sebagai perjalanan kesadaran dalam penyadarannya akan Roh Absolut.

Karena waktu dipahami sebagai linear dan perjalanan merempuhi waktu linear tersebut dihayati sebagai suatu proses penyempurnaan diri atau perjalanan kesadaran [roh] menuju Roh Absolut [jargon Hegel], maka spirit orang modern adalah eksploratif. Setiap pengalaman dipahami sebagai suatu eksplorasi. Dan kebaruan menjadi katalisator dalam segenap denyut dinamika kehidupan modern. Kebaruan menjadi agen-pengarah dalam mengarungi waktu. Menemukan yang baru merupakan keutamaan/keunggulan, sementara pengulangan merupakan penyia-nyiaan waktu, yang pada hakikatnya merupakan sesuatu yang tak bisa kita alami kembali. Karena itulah masa kini selalu dipahami sebagai masa yang momentous, masa tempat kita menemukan hal baru, yang di masa depan nanti temuan baru kita itu dipandang sebagai sebuah sumbangan pada kemanusiaan. Kita orang modern menjadi orang yang tak sabaran.

Dalam kebaruan modernis ini tersirat pengertian progress atau kemajuan. Progress adalah anggapan bahwa masa kini adalah lebih baik, lebih luhur, lebih unggul, lebih mulia dari segala hal yang pernah berlangsung di masa lalu.

Dengan konsep waktu dan pengertian kebaruan/progress inilah maka kita sebagai orang modern selalu berupaya menemukan hal-hal baru sambil melupakan (dan memandangnya sebagai usang)  hal-hal yang sudah ada. Inilah yang menjadi alasan kenapa orang modern mengharamkan segala peniruan pada masa lalu. Bagi mereka adalah tak masuk akal untuk meniru kehidupan Romawi Kuno yang punya kebiasaan menghukum mati setiap penjinah, yang mensyaratkan seorang caesar memiliki latar belakang militer, merangsek sampai keakar-akarnya setiap pemberontakan,  bagi —misalnya—kehidupan New York abad 21. Upaya revitalisasi pun tak pernah dilakukan dengan jujur dan sepenuh hati. Dalam setiap upaya revitalisasi akan selalulah terkandung polesan dan sentuhan “masa kini”. Revitalisasi seperti ini bisa kita lihat jika kita membandingkan revitalisasi mural yang dilakukan Riviera dengan karya-karya mural abad pertengahan atau Renaissance.

Orang modern, atas dasar cara berpikirnya sendiri, selalu mengarahkan perhatian ke masa depan. Dia dipaksa untuk menemukan sesuatu yang baru agar dirinya punya makna. Dengan konsep waktu yang modern ini, sejarah sebagai suatu kegiatan pencatatan hal-hal yang telah berlangsung, menjadi kegiatan yang penting. Dan sejarah pada dasarnya merupakan semacam “catatan perjalanan” manusia dan kemanusiaan dalam perjalanannya melintasi waktu linear. “Catatan perjalanan” seperti ini merupakan pencatatan atas setiap temuan-temuan yang pernah dihasilkan. Dan setiap orang modern diharuskan mengaji sejarah, semata-mata agar dia—dalam menjalani waktu dan hidupnya—tidak mengulang apa yang telah terjadi, agar dia insaf akan hal-hal yang sudah dan yang belum ditemukan.

* * * * *

Epilog: Tugas Seorang Seniman Modern

Dari uraian Formalisme, kita telah tahu bahwa ruh kesenian adalah form alih-alih content. Dari tulisan tentang konsep waktu dalam kesadaran modern, kita insaf bahwa orang modern adalah eksploratif dalam spiritnya, dan selalu mencari hal [form] baru dalam mengarungi waktu dan memaknai hidupnya.

Jika kedua hal ini kita jadikan premis, maka kita bisa menarik kesimpulan perihal apa dan bagaimana tugas seorang seniman modern.

Apa?! Anda tak bisa menyimpulkannya sendiri?!!?

(Rachmat Juhandi)

Alamat : Jl Pagarsih Gg Pasantren 31 Bandung

Tlp 08882176314

Email:  Thebolors_bujurnolols@yahoo.com atau

Insane_kamil@yahoo.com

1 Response to “Articles”


  1. 1 br November 9, 2008 pukul 2:19 pm

    gemeretak roda kereta itu makin menjauh. lembayung mengingatkan bahwa aku harus pulang untuk bersepi mencangkul lagi agar besok tak terlambat bertanam. yah, namanya tamu, memang paling-paling hanya sesekali riang datang untuk melongok, minum kopi dan menghabiskan asap sebentar, tidak untuk bersama mengarungi cuaca yang kejam dan tak mengenal nama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Penanggal

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: